PANJI ISLAM – Tradisi Menghidupkan Malam Nisfu Syaban ala Penduduk Makkah dan Negeri Syam
Sudah sejak dahulu kala, para ulama di Syam dan penduduk Makkah menghidupkan malam Nisfu Syaban dengan ibadah berjamaah di masjid. Foto ilustrasi/ist
Menurut Ustaz Farid Nu’man Hasan, dai lulusan Sastra Arab Universitas Indonesia ini menegaskan bahwa menghidupkan malam Nisfu Syaban bukanlah bid’ah. Syekh ‘Athiyah Shaqr rahimahullah menyebutkan para imam Tabi’in di Syam yang menghidupkan malam Nisfu Syaban dengan ibadah di masjid secara berjamaah, mereka memandangnya bukan bid’ah.
Berikut ini uraiannya:
أنه يستحب إحياؤها جماعة فى المسجد، وكان خالد بن معدان ولقمان ابن عامر وغيرهما يلبسون فيها أحسن ثيابهم ويتبخرون ويكتحلون ويقومون فى المسجد ليلتهم تلك ، ووافقهم إسحاق بن راهويه على ذلك وقال فى قيامها فى المساجد جماعة : ليس ذلك ببدعة، نقله عنه حرب الكرمانى فى مسائله
“Dianjurkan menghidupkan malam tersebut dengan berjamaah di masjid, Khalid bin Mi’dan dan Luqman bin ‘Amir, dan selainnya, mereka mengenakan pakain bagus, memakai wewangian, bercelak, dan mereka menghidupkan malamnya dengan shalat. Hal ini disepakati oleh Ishaq bin Rahawaih, dia berkata tentang shalat berjamaah pada malam tersebut: “Itu bukan bid’ah!” Hal ini dikutip oleh Harb al Karmani ketika dia bertanya kepadanya tentang ini.” (Fatawa Al Azhar, 10/131)
Ini pun pendapat mayoritas ahli fiqih. Tertulis dalam Al Mausu’ah:
ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ إِلَى نَدْبِ إِحْيَاءِ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ …
“Mayoritas ahli fiqih menganjurkan menghidupkan (dengan ibadah) malam Nisfu Syaban … (Lalu disebutkan beberapa hadits tentang hal itu).” (Al Mausu’ah, 2/236)
Bahkan ini dilakukan sudah sejak lama di Masjid Al-Haram Makkah, pada masa Salaf. Al-Fakihi rahimahullah (wafat 272 H) bercerita:
ذِكْرُ عَمَلِ أَهْلِ مَكَّةَ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَاجْتِهَادِهِمْ فِيهَا لِفَضْلِهَا وَأَهْلُ مَكَّةَ فِيمَا مَضَى إِلَى الْيَوْمِ إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، خَرَجَ عَامَّةُ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ إِلَى الْمَسْجِدِ، فَصَلَّوْا، وَطَافُوا، وَأَحْيَوْا لَيْلَتَهُمْ حَتَّى الصَّبَاحَ بِالْقِرَاءَةِ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، حَتَّى يَخْتِمُوا الْقُرْآنَ كُلَّهُ، وَيُصَلُّوا، وَمَنْ صَلَّى مِنْهُمْ تِلْكَ اللَّيْلَةَ مِائَةَ رَكْعَةٍ يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بِالْحَمْدُ، وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ عَشْرَ مَرَّاتٍ، وَأَخَذُوا مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ، فَشَرِبُوهُ، وَاغْتَسَلُوا بِهِ، وَخَبَّؤُوهُ عِنْدَهُمْ لِلْمَرْضَى، يَبْتَغُونَ بِذَلِكَ الْبَرَكَةَ فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ، وَيُرْوَى فِيهِ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ
“Amalan penduduk Mekkah pada malam Nisfu Syaban dan kesungguhan mereka beribadah karena keutamaan malam tersebut. Penduduk Mekkah dari dulu sampai hari ini, jika datang malam Nisfu Syaban, maka mayoritas laki-laki dan perempuan keluar menuju Masjidil Haram, mereka salat, thawaf, dan menghidupkan malam itu sampai pagi dengan membaca Al-Qur’an di Masjidil Haram sampai mengkhatamkan semuanya, dan mereka shalat. Di antara mereka ada yang salat malam itu 100 rakaat dan pada tiap rakaatnya membaca Al Fatihah dan Al Ikhlas 10 kali, lalu mereka mengambil air zam-zam malam itu, lalu meminumnya, mandi dengannya, dan juga menyembuhkan orang sakit dengannya, dalam rangka mencari keberkahan pada malam tersebut.” (Akhbar Makkah, 3/84)
Walaupun para ulama mengakui keutamaan malam Nisfu Syaban dan anjuran menghidupkannya dengan ibadah, namun sebagian ulama ada yang tidak menyukainya termasuk ulama di kalangan Syafi’iyah. Khususnya dalam hal penentuan jumlah rakaat dan cara cara spesifik lainnya.
Temukan Informasi Selengkapnya Pada Sumber Berita: kalam.sindonews.com
PANJI ISLAM
Portal Berita Islam – Portal Berita Islam Terpercaya
















Discussion about this post