PANJI ISLAM – Kisah Pasukan Muslim Mengepung Kota Iskandariah Mesir selama Berbulan-bulan
loading…
Amr bn Ash tidak putus asa untuk dapat mengalahkan musuhnya. Langkah pertama yang akan diambil menjauhkan diri dari sasaran manjaniq. Ilustrasi: National geographic
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul “Al-Faruq Umar” dan diterjemahkan Ali Audah menjadi “Umar bin Khattab, Sebuah teladan mendalam tentang pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya masa itu” (PT Pustaka Litera AntarNusa, 2000) menceritakan di Iskandariah Mesir, Amr bin Ash mendirikan markasnya di sebelah timur kota, tak jauh dari Hilwat dengan istana Pharos.
Amr bin Ash sadar bahwa penyerangan terhadap kota itu bukan soal mudah. Bagaimana tidak. Dari utara kota ini dilindungi oleh laut, yang hanya dikuasai oleh Romawi sendiri, sedangkan pihak Muslim tak mempunyai satu pun kapal layar, sementara di sebelah selatan mereka dilindungi oleh Danau Maryut, dan untuk menyeberanginya suatu hal yang sulit, bahkan mustahil.
Di sebelah barat dilingkari oleh terusan Su’ban. Oleh karena itu, satu-satunya jalan hanya dari sebelah timur, yaitu jalan yang terbuka langsung ke Kiryaun. Tetapi dari arah ini kota itu sangat diperkuat dengan tembok-tembok dan benteng-benteng, seperti yang terdapat juga di bagian-bagian lain kota.
Setiap bala bantuan dari laut kepada Iskandariah sangat mudah, mengingat kota-kota pantai Mesir semua di tangan Romawi. Dengan mudah ia dapat mengirim kapal untuk mengangkut bahan makanan untuk penduduk dan garnisun ibu kota.
Kala itu, penjaga kota berjumlah 50.000 pasukan. Sedangkan pasukan Muslim diperkirakan hanya 12.000 orang saja. Pasukan Romawi itu sudah yakin bahwa kalau mereka kalah, kedaulatan Romawi di Mesir tamat sudah.
Malah kata-kata Kaisar sudah sampai kepada mereka:
“Jika pasukan Arab menang di Iskandariah, hancurlah Romawi dan terputuslah kerajaannya. Buat Romawi, tak ada gereja yang lebih besar dari gereja-gereja Iskandariah.”
Kata-kata ini membakar semangat mereka untuk mempertahankan kota mati-matian.
Jadi kalau begitu, bagi pasukan Muslim tak ada harapan untuk menyerang kota selama garnisun bertahan di tembok-tembok dan kubu-kubu, dan tak ada pula harapan untuk menyerang dan mengalahkan para pengawal itu, kecuali jika mereka keluar dari benteng itu untuk menghadapi pasukan Arab di tempat terbuka.
Amr bn Ash tidak putus asa untuk dapat mengalahkan musuhnya. Langkah pertama yang akan diambil menjauhkan diri dari sasaran manjaniq.
Kalau pengepungan itu berlangsung lama terhadap Romawi itu saja sudah akan membuat mereka merasa terpukul, dan mereka akan nekat menyerbu ke luar, maka saat itulah pasukan Muslimin akan menghajar mereka.
Itu sebabnya Amr bin Ash tinggal di markasnya di antara Hilwat dengan Istana Pharos itu selama dua bulan penuh. Selama itu pihak Romawi pun tidak keluar dan tidak pula berusaha hendak memeranginya.
Setelah itu Amr memindahkan markasnya ke Mags. Maka ketika itu pasukan itu keluar dari arah Danau sambil berlindung di benteng yang ada di sana. Mereka menyerang Muslimin dan berhasil membunuh dua orang di Gereja Emas.
Setelah itu, melihat pasukan Muslimin berkumpul akan menghadapi mereka, mereka pun kembali ke benteng. Hal itu tidak mengurangi tekad Amr untuk tetap berada di dekat kota, meskipun ia harus lebih berhati-hati dan lebih waspada.
Dengan demikian pasukan Romawi tetap terkepung dan jarang sekali keluar. Pihak Muslimin pun tetap berada di depan mereka, dengan bahan makanan yang didatangkan dari kota terdekat. Tak terlintas dalam pikiran Amr mau bertindak nekat menyerbu benteng mereka, karena dia tahu pasti hal itu tak mungkin tercapai.
Tetapi tak lama setelah pengepungan kota itu Amr melihat bahwa keberadaannya di situ mengawasi keluarnya garnisun tanpa mengadakan suatu kegiatan perang yang akan memberi semangat kepada pasukannya, pasti akan menimbulkan kejemuan dalam hati dan akan timbul perasaan tak mampu menghadapi musuh.
Hal ini akan menggoyahkan rasa percaya diri dan kepastian masa depan mereka. Pikirannya itu telah mengantarkannya pada dua tujuan sekaligus, menghilangkan rasa jemu pasukannya dan sekaligus melemahkan tekad pasukan Romawi pengawal kota itu.
Setelah itu ia mengirim satuan-satuan menyusup ke kawasan Delta sambil mengusir pasukan Romawi di sana, dan yang sebagian besar tetap mengepung Iskandariah.
Adakah Amr sendiri yang memimpin satuan-satuan itu ataukah me nyerahkannya kepada salah seorang komandan pasukannya? Beberapa sumber masih berbeda pendapat. Sebagian ada yang beranggapan bahwa satuan-satuan itu menyusup ke kawasan Mesir Hulu sementara yang lain menyusup ke kawasan Delta, dan bahwa Amr mulai melaksanakan rencananya sejak ia mengepung benteng Babilon dan sebelum berangkat ke Iskandariah.
Ketika mengepung Babilon dulu ia mengirim satuan-satuannya ke Asrib dan Manuf dan menguasai kedua kota itu. Begitu juga satuan-satuan yang lain yang kemudian menguasai seluruh kawasan Fayyum.
Dengan berpegang pada sumber sejarawan Hanna Naqyusi, Butler berpendapat bahwa Amr sendirilah yang berangkat setelah melihat begitu kuatnya kota Iskandariah, memimpin satuan-satuan yang berangkat dari Iskandariah ke Kiryaun, kemudian ke Damanhur menuju ke arah timur sampai ke Sakha di provinsi Garbiah.
Karena tempat itu dikelilingi tembok-tembok dan air, ia tak dapat maju. Karenanya, tempat itu ditinggalkannya dan ia pergi ke selatan ke arah Taukh sekitar 30 mil dari sana.
Setelah dibendung oleh pihak kawasan itu, ia pergi ke Damses tetapi tak berhasil menaklukkannya.
Sumber Berita: kalam.sindonews.com
PANJI ISLAM
Portal Berita Islam – Portal Berita Islam Terpercaya















Discussion about this post