PANJI ISLAM – Kisah Nabi Muhammad SAW tentang Malam Lailatul Qadar
Malam Lailatul Qadar merupakan salah satu malam paling istimewa dalam ajaran Islam. Malam ini disebut dalam Al-Qur’an sebagai malam yang memiliki keutamaan luar biasa, bahkan nilainya lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan.
Karena kemuliaannya tersebut, umat Islam di seluruh dunia selalu berusaha mencari dan menghidupkan malam Lailatul Qadar, khususnya pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Berbagai ibadah dilakukan untuk meraih keberkahan malam tersebut, mulai dari salat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, hingga berdoa memohon ampunan kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW sendiri memberikan teladan kepada umatnya tentang bagaimana cara menyambut malam yang penuh kemuliaan ini. Beliau tidak hanya menjelaskan keutamaannya melalui hadis, tetapi juga memperlihatkan secara langsung bagaimana beliau menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan dengan ibadah yang sungguh-sungguh.
Rasulullah Menghidupkan Sepuluh Malam Terakhir Ramadan
Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, Rasulullah SAW meningkatkan ibadahnya secara lebih intens dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Beliau memperbanyak salat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa kepada Allah SWT. Bahkan Rasulullah juga menganjurkan para sahabat dan seluruh umat Islam untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan besar tersebut.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Jika kalian tidak mampu, maka jangan sampai terlewat tujuh malam terakhirnya.”
Hadis ini menunjukkan bahwa malam Lailatul Qadar tidak diketahui secara pasti kapan datangnya. Namun Rasulullah memberikan petunjuk bahwa malam tersebut kemungkinan besar terjadi pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan, seperti malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29.
Karena itulah Rasulullah SAW selalu menghidupkan seluruh malam tersebut dengan penuh kesungguhan dalam beribadah.
Kisah Rasulullah SAW Beriktikaf di Masjid
Salah satu kisah yang menggambarkan bagaimana Rasulullah SAW bertemu dengan malam Lailatul Qadar terjadi ketika beliau sedang melaksanakan iktikaf di masjid pada hari-hari terakhir Ramadan.
Pada malam itu, Rasulullah SAW berada di dalam masjid bersama para sahabat yang juga mengikuti kebiasaan beliau untuk beriktikaf. Mereka menghabiskan malam dengan salat, membaca Al-Qur’an, serta berdoa kepada Allah SWT.
Ketika Rasulullah SAW berdiri melaksanakan salat malam, para sahabat juga mengikuti beliau dengan khusyuk. Begitu pula ketika Rasulullah menengadahkan tangan untuk berdoa, para sahabat serempak mengaminkan doa tersebut.
Malam itu langit tampak mendung tanpa bintang. Angin bertiup cukup kencang melewati masjid yang pada masa itu belum memiliki atap seperti bangunan masjid saat ini.
Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa malam tersebut diyakini sebagai malam ke-27 Ramadan.
Hujan Turun Saat Rasulullah Bersujud
Ketika Rasulullah SAW dan para sahabat sedang melaksanakan salat malam, tiba-tiba hujan turun cukup deras.
Masjid yang hanya beratapkan daun kurma tidak mampu menahan air hujan yang turun dari langit. Air pun mulai menetes dan menggenangi lantai masjid.
Sebagian sahabat merasakan dinginnya air hujan yang membasahi tubuh mereka. Bahkan ada seorang sahabat yang sempat berniat keluar dari saf salat untuk mencari tempat berteduh.
Namun niat tersebut urung dilakukan setelah ia melihat Rasulullah SAW tetap bersujud dengan penuh kekhusyukan, meskipun air hujan terus membasahi tubuh beliau.
Para sahabat akhirnya tetap bertahan dalam saf salat, mengikuti Rasulullah yang tetap melanjutkan ibadahnya tanpa bergerak sedikit pun.
Air hujan semakin banyak menggenangi lantai masjid hingga membasahi pakaian dan tubuh Rasulullah SAW serta para sahabat yang sedang salat.
Namun kondisi tersebut sama sekali tidak mengurangi kekhusyukan Rasulullah dalam beribadah.
Rasulullah Tenggelam dalam Kekhusyukan
Dalam riwayat tersebut digambarkan bahwa Rasulullah SAW begitu khusyuk dalam sujudnya.
Beliau seolah tenggelam dalam keindahan spiritual yang sangat mendalam. Sujud beliau berlangsung cukup lama, seakan-akan beliau sedang menikmati kedekatan luar biasa dengan Allah SWT.
Tubuh beliau basah kuyup oleh air hujan, tetapi beliau tidak sedikit pun bergerak untuk menghindari air tersebut.
Para sahabat yang melihat keadaan itu merasa takjub sekaligus terharu. Mereka menyaksikan langsung bagaimana Rasulullah begitu larut dalam ibadahnya hingga seakan-akan melupakan keadaan di sekelilingnya.
Beberapa sahabat bahkan mulai menggigil karena dinginnya air hujan yang terus membasahi tubuh mereka.
Namun mereka tetap bertahan dalam salat karena melihat Rasulullah SAW tidak beranjak dari tempat sujudnya.
Rasulullah baru mengangkat kepala dari sujudnya dan menyelesaikan salat ketika hujan mulai reda.
Anas bin Malik Ingin Membantu Rasulullah
Setelah salat selesai, salah seorang sahabat bernama Anas bin Malik segera berdiri dan bergegas ingin mengambilkan pakaian kering untuk Rasulullah SAW.
Anas merasa khawatir melihat pakaian Rasulullah yang basah kuyup akibat hujan.
Namun Rasulullah SAW dengan lembut mencegahnya dan berkata:
“Wahai Anas, janganlah engkau mengambilkan sesuatu untukku. Biarkanlah kita tetap seperti ini. Nanti pakaian kita akan kering dengan sendirinya.”
Ucapan Rasulullah tersebut menunjukkan kesederhanaan dan ketenangan hati beliau, meskipun berada dalam kondisi yang tidak nyaman.
Riwayat Lain Tentang Malam Lailatul Qadar
Selain kisah tersebut, terdapat pula riwayat lain yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW pernah bertemu malam Lailatul Qadar pada malam ke-21 Ramadan.
Riwayat ini tercantum dalam kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik yang bersumber dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri.
Dalam riwayat tersebut diceritakan bahwa Rasulullah SAW sedang beriktikaf pada sepuluh hari kedua Ramadan. Ketika tiba malam ke-21, beliau menyampaikan kepada para sahabat bahwa beliau telah diperlihatkan malam Lailatul Qadar, tetapi kemudian dibuat lupa mengenai waktu pastinya.
Rasulullah kemudian bersabda agar umat Islam mencari malam tersebut pada sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama pada malam-malam ganjil.
Abu Sa’id Al-Khudri juga menceritakan bahwa pada malam tersebut hujan turun sehingga air menetes dari atap masjid yang terbuat dari daun kurma.
Ia bahkan melihat sendiri bekas air dan tanah pada dahi Rasulullah SAW ketika beliau selesai melaksanakan salat.
Hikmah dari Kisah Rasulullah dan Lailatul Qadar
Kisah Rasulullah SAW ketika bertemu malam Lailatul Qadar memberikan banyak pelajaran berharga bagi umat Islam.
Pertama, kisah tersebut menunjukkan betapa besar kesungguhan Rasulullah dalam beribadah, terutama ketika mencari malam yang penuh kemuliaan tersebut.
Kedua, Rasulullah memberikan teladan bahwa ibadah harus dilakukan dengan penuh kekhusyukan dan kesabaran, bahkan dalam kondisi yang tidak nyaman sekalipun.
Ketiga, kisah ini juga mengingatkan bahwa malam Lailatul Qadar merupakan rahasia Allah SWT yang tidak diketahui secara pasti kapan datangnya.
Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk menghidupkan seluruh malam pada sepuluh hari terakhir Ramadan agar tidak melewatkan kesempatan mendapatkan keberkahan malam tersebut.
Penutup
Malam Lailatul Qadar adalah malam yang penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan dari Allah SWT.
Kisah Rasulullah SAW yang tetap khusyuk beribadah meskipun diguyur hujan menunjukkan betapa besar nilai ibadah yang beliau lakukan pada malam tersebut.
Teladan ini menjadi pengingat bagi umat Islam untuk memanfaatkan sepuluh malam terakhir Ramadan dengan sebaik-baiknya melalui berbagai amal ibadah.
Semoga kita semua diberikan kesempatan untuk bertemu dengan malam Lailatul Qadar dan meraih keberkahan yang dijanjikan oleh Allah SWT. Aamiin.
Sumber Berita: kalam.sindonews.com
PANJI ISLAM
Portal Berita Islam – Portal Berita Islam Terpercaya
















Discussion about this post