PANJI ISLAM – Kisah Kedermawanan Rasulullah SAW Saat Ramadan
Kisah ini menarik untuk disimak. Tentang akhlak dan keteladanan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dalam bersedekah, terutama di bulan Ramadan. Foto ilustrasi/Sindonews
”Sudah, ya Rasulullah,” jawab Aisyah.
”Bagaimana dengan Ummu Ayman?” tanya Rasulullah lagi.
“Sudah, ya Rasulullah,” jawab Aisyah.
Kemudian Rasulullah bertanya lagi tentang tetangga-tetangganya yang lain, apakah sudah diberi masakan tersebut. Sampai Aisyah merasa penat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.
“Sudah habis kubagikan, ya Rasulullah, yang tinggal apa yang ada di depan kita ini,” ujar Aisyah.
Rasulullah SAW tersenyum. Lalu dengan lembut menjawab, ”Kamu salah Aisyah, yang habis adalah apa yang kita makan ini dan yang kekal adalah apa yang kita sedekahkan.”
Dikisahkan oleh Umar bin Khattab . Suatu hari seorang laki-laki datang menemui Rasulullah SAW untuk meminta-minta, lalu Rasulullah SAW memberinya.
Keesokan harinya, laki-laki itu datang kembali meminta-minta, lalu Rasulullah SAW memberinya. Keesokan harinya, ia datang kembali dan meminta, Rasulullah kembali memberinya. Keesokan harinya, ia datang dan kembali meminta-minta.
Rasulullah SAW lalu bersabda,”Saya tidak mempunyai apa-apa saat ini. Akan tetapi, ambillah apa yang engkau mau, dan jadikanlah itu utang bagiku. Jika suatu saat saya mempunyai sesuatu, saya akan membayarnya.”
Umar lalu berkata kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, janganlah engkau memberikan sesuatu yang berada di luar batas kemampuanmu.”
Rasulullah SAW tersenyum, lalu beliau bersabda kepada Umar, “Karena itulah saya diperintahkan oleh Allah.”
Sayyidah Ummu Salamah, istri Rasulullah SAW bercerita: “Suatu hari Rasulullah SAW masuk ke dalam rumahku dalam keadaan muka pucat. Saya khawatir jangan-jangan beliau lagi sakit. Saya lalu bertanya: ya Rasulullah, mengapa wajahmu pucat begitu? Apakah Anda sakit?”
Rasulullah SAW menjawab,“Saya pucat begini bukan karena sakit, tetapi karena saya ingat uang tujuh dinar yang kita dapatkan kemarin. Sore ini uang itu masih ada di bawah kasur dan kita belum menginfakkannya.”
Subhanallah, demikianlah bagaimana luar biasanya Rasulullah SAW. Beliau pucat pasi bukan karena sakit, bukan karena kurangnya uang dan kekayaan, namun karena ada uang yang masih tersimpan yang belum diinfakkan.
Sejatinya harta bukanlah tujuan. Kekayaan bukan akhir pencarian, akan tetapi sarana untuk lebih mengabdi kepada-Nya. Karena itu, Jabir menuturkan,“Rasulullah SAW tidak pernah mengatakan ‘tidak’ manakala beliau diminta.” (HR Bukhari)
Temukan Informasi Selengkapnya Pada Sumber Berita: kalam.sindonews.com
PANJI ISLAM
Portal Berita Islam – Portal Berita Islam Terpercaya














Discussion about this post