PANJI ISLAM – Keajaiban Malam ke-24: Kisah Wanita Buta yang Kembali Melihat di Bulan Ramadan
Bulan Ramadan bukan sekadar momen menahan lapar dan dahaga, melainkan waktu di mana pintu-pintu langit terbuka lebar bagi setiap hamba yang mengetuknya dengan doa. Salah satu bukti nyata tentang kemuliaan bulan ini terekam dalam sebuah kisah hikmah klasik yang dicatat oleh ulama kenamaan, Ibnu Abid-Dunya, dalam kitabnya Mujabud Da’wah (Doa-doa yang Dikabulkan).
Cahaya yang Datang Tiba-Tiba
Kisah ini terjadi pada masa pemerintahan Muhammad bin Sulaiman, seorang tokoh berpengaruh dari Dinasti Abbasiyah. Tersebutlah seorang wanita yang telah lama kehilangan penglihatannya. Hari-harinya dilalui dalam kegelapan, namun hatinya tetap terang oleh iman dan harapan kepada Allah SWT.
Puncaknya terjadi pada malam ke-24 Ramadan. Di saat umat Muslim lainnya sedang tenggelam dalam ibadah di penghujung bulan suci, sebuah mukjizat kecil terjadi. Secara tiba-tiba dan tanpa bantuan medis apa pun, wanita ini kembali bisa melihat dunia. Penglihatannya pulih sepenuhnya, seolah-olah ia tidak pernah mengalami kebutaan.
Kesaksian Syu’aib bin Muhriz
Kabar mengenai kesembuhan ajaib ini menyebar dengan cepat hingga terdengar ke telinga Syu’aib bin Muhriz. Sebagai seorang yang haus akan kebenaran, Syu’aib merasa tidak cukup hanya mendengar kabar burung. Ia memutuskan untuk mendatangi langsung kediaman wanita tersebut guna memastikan kebenaran berita yang menghebohkan itu.
Setelah bertemu dan menyaksikan sendiri kondisi sang wanita, Syu’aib tertegun. Kekuatan doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh di bulan Ramadan terbukti mampu mengubah sesuatu yang mustahil di mata manusia menjadi nyata atas izin Allah.
Pelajaran Berharga dari Kisah Ini
Kisah wanita buta di zaman Abbasiyah ini memberikan kita beberapa poin refleksi:
-
Waktu yang Mustajab: Ramadan, terutama sepuluh malam terakhirnya, adalah waktu “emas” untuk memohon hal-hal besar kepada Sang Pencipta.
-
Ketulusan Hati: Doa yang dikabulkan bukan sekadar untaian kata, melainkan getaran hati yang penuh keyakinan (husnudzon) kepada Allah.
-
Optimisme: Tidak ada kondisi yang terlalu buruk untuk diperbaiki selama kita masih memiliki akses menuju jalur doa.
“Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari api neraka pada setiap siang dan malam bulan Ramadan, dan setiap Muslim memiliki doa yang dipanjatkan lalu dikabulkan.”
Rahasia di Balik Kesembuhan: Untaian Doa yang Menggetarkan Arsy
Rasa penasaran Syu’aib bin Muhriz membawanya menempuh perjalanan menuju kediaman Musa al-Muhtasib di Kota Bashrah. Di sanalah wanita tersebut tinggal. Kedatangan Syu’aib disambut dengan santun; sang wanita memintanya menunggu sejenak di depan rumah sebelum akhirnya ia keluar menemui tamu tersebut.
Saat wanita itu muncul, Syu’aib tertegun. Matanya tampak bening dan normal, seolah-olah tabir kegelapan tidak pernah menyelimutinya sama sekali. Tanpa membuang waktu, Syu’aib bertanya dengan penuh takjub:
“Wahai hamba Allah, doa apa sebenarnya yang engkau panjatkan kepada Tuhanmu hingga mukjizat ini terjadi?”
Ritual Ibadah dan Ketulusan Hati
Wanita itu pun berkisah bahwa ia tidak pernah putus asa sejak awal bulan suci. Pada malam pertama Ramadan, ia menjalankan salat di Masjid Al-Hay. Perjuangannya berlanjut hingga ke rumah; setiap waktu sahur tiba, ia bersimpuh di tempat salatnya, mengadu kepada Sang Pencipta dalam keheningan malam.
Inilah kalimat doa yang ia langitkan, sebuah permohonan yang bertawasul pada kisah-kisah para nabi terdahulu:
Artinya:
“Wahai Zat Yang Menghilangkan penderitaan Nabi Ayyub, wahai Zat Yang Mengasihi masa tua Nabi Ya’qub, wahai Zat Yang Mengembalikan Nabi Yusuf kepada Nabi Ya’qub, kembalikanlah penglihatanku kepadaku.”
Kekuatan dalam Kata-Kata
Doa ini menjadi sangat istimewa karena sang wanita menyebutkan tiga keajaiban besar dalam sejarah para nabi:
-
Kesabaran Nabi Ayyub yang disembuhkan dari penyakit bertahun-tahun.
-
Kesedihan Nabi Ya’qub di masa tuanya yang berakhir bahagia.
-
Pertemuan Kembali Nabi Yusuf dengan ayahnya setelah perpisahan yang sangat panjang.
Dengan keyakinan bahwa Allah yang sama masih mendengar doa hamba-Nya di bulan Ramadan, wanita tersebut mendapatkan kembali cahayanya tepat pada malam ke-24. Kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua: Jangan pernah meremehkan kekuatan doa, terutama saat hati sedang pasrah sepenuhnya kepada-Nya.
Hikmah Kisah Dalam cerita di atas, tidak dapat dipastikan siapa nama wanita dalam kisah tersebut, akan tetapi ada beberapa hikmah yang dapat diambil dari kisah di atas. Di antara hikmah kisah di atas adalah hendaknya kita memaksimalkan Ramadan untuk beribadah kepada Allah, misalnya dengan mengisi malam-malam Ramadan dengan ibadah sunnah seperti salat tarawih, tahajud, witir dan zikir serta doa kepada Allah.
Sumber Berita: kalam.sindonews.com
PANJI ISLAM
Portal Berita Islam – Portal Berita Islam Terpercaya
















Discussion about this post