• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Terms & Conditions
  • Cookies
  • Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Donasi
YOUTUBE
Panji Islam Portal Berita Islam Terpercaya di Indonesia | Portal Islam | Situs Islam
No Result
View All Result
  • Login
Al Qur'an Online
Selasa, 16 Juni 2026
  • Home
  • Berita IslamNEW
    • Cover Story
    • Islam Indonesia
    • Islam Internasional
    • Palestina Terkini
    • Umroh dan Haji
    • Politik
  • Kajian
    • Gaya Hidup Muslim
    • Hiburan Islami
    • Jendela Keluarga
    • Oase Iman
    • Hukum Islam
  • Khazanah Islam
    • Khazanah Ramadhan
    • Khazanah Ponpes
    • Sejarah Islam
    • Sejarah Islam Nusantara
    • Peristiwa
    • Video
  • Kisah dan Hikmah
  • Home
  • Berita IslamNEW
    • Cover Story
    • Islam Indonesia
    • Islam Internasional
    • Palestina Terkini
    • Umroh dan Haji
    • Politik
  • Kajian
    • Gaya Hidup Muslim
    • Hiburan Islami
    • Jendela Keluarga
    • Oase Iman
    • Hukum Islam
  • Khazanah Islam
    • Khazanah Ramadhan
    • Khazanah Ponpes
    • Sejarah Islam
    • Sejarah Islam Nusantara
    • Peristiwa
    • Video
  • Kisah dan Hikmah
Panji Islam Portal Berita Islam Terpercaya di Indonesia | Portal Islam | Situs Islam
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Cover Story

Bey Arifin: Muballigh Asal Bukittinggi, Tempat Menimba Ilmu Agama Para Tentara

Jumat. 14 Februari 2025 17:40
Reading Time: 4 mins read
447
A A
0
830
SHARES
2.3k
VIEWS
FacebookWhatsApp
ADVERTISEMENT

Baca Lainnya

Abdullah bin Salam: Dari Yahudi ke Islam – Portal Islam

Badar: Mengenang Kembali Momentum Pembuktian Janji Allah – Portal Islam

Keajaiban Malam ke-24: Kisah Wanita Buta yang Kembali Melihat di Bulan Ramadan – Portal Islam

Muhammadiyah Tetapkan Idulfitri 1447 H Jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026 – Portal Islam

PANJI ISLAM – Bey Arifin: Muballigh Asal Bukittinggi, Tempat Menimba Ilmu Agama Para Tentara – Islami[dot]co

Buyung Tanjung begitulah nama kecil dari KH. Bey Arifin. Seorang da’i terkenal, tokoh masyarakat, penulis dan juga imam tentara. Merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Beliau lahir pada tanggal 26 September 1917 M di dataran Bukittinggi Sumatra Barat, tepatnya di Desa Parak Laweh, Kecamatan Tilatang. Ayahnya bernama Muhammad Arif yang bergelar Datuk Laut Basa adalah seorang petani biasa. Sedangkan ibunya bernama Siti Zulaikha.

Masyarakat Minangkabau mempunyai tradisi menamai anak laki-laki dengan Buyung. Karena ibunya termasuk Suku Tanjung, maka KH. Bey Arifin diberi nama Buyung Tanjung, yang berarti anak laki-laki dari keluarga Suku Tanjung. Pada waktu kecil, Buyung Tanjung sering sakit sakitan dan selalu berganti-ganti nama. Karena masih saja sakit-sakitan, akhirnya ia dibiarkan tanpa nama dan hanya dipanggil Buyung. Ia juga mendapat julukan Buyung Kapuyuak. Sebutan itu diberikan teman-temannya sebab setiap bermain sepakbola ia selalu menyuruk-nyuruk seperti kapuyuak atau kecoak.

Buyung menghabiskan masa kecilnya untuk belajar ilmu agama dengan mengaji di surau-surau, masjid, dan gemar mendatangi ceramah-ceramah yang diselenggarakan di desa sendiri maupun desa lainnya. Hingga terjadi sebuah peristiwa yang membuka hati dan pikiran Buyung untuk menemukan panggilan jiwanya.

Suatu malam selepas Isya di bulan suci Ramadhan, Buyung bersama ayahnya menghadiri peringatan turunnya kitab suci al-Qur’an atau Nuzulul Qur’an di kampung Parak Laweh. Pada saat itu mubalignya adalah Kiai Nurdin Ahmad. Buyung waktu itu terpana melihat penampilan Kiai Nurdin Ahmad. Semua orang merenung saar mendengarkan uraiannya tentang Agama Islam. Mereka percaya apa yang dikatakannya dan menghormatinya. Lebih dari itu seorang penceramah memiliki pengaruh besar terhadap pendengarnya.

Kepada ayahnya, Buyung mengungkapkan keinginananya menjadi seorang mubalig. Ia ingin lebih dalam mempelajari Agama Islam untuk bekal bertablig kelak. Sejak saat itu pikirannya hanya tertuju bagaimana cara bisa menjadi seorang ahli pidato, berceramah tentang agama, bertablig di depan banyak orang seperti Kiai Nurdin Ahmad. Buyung menjadi lebih rajin untuk belajar ilmu agama. Ibunya, Siti Zulaikha bersyukur pada akhirnya anak itu menemukan dirinya sendiri.

Mengingat ayahnya bekerja keras setiap hari di sawah, Buyung ingin mencoba mengubah nasib melalui jalan pendidikan. Ia minta pada ayahnya agar bisa bersekolah meskipun sambil bekerja. Sebagaimana anak seusianya yang membantu orang tua bekerja. Ayahnya mewujudkan keinginan Buyung. Ia mendaftarkan Buyung bersekolah di Volkschool sebuah sekolah umum tingkat dasar yang berada tidak jauh dari kampungnya sendiri Parak Laweh.

Setelah lulus kelas tiga di Volkschool, Buyung merasa ilmunya belum cukup. Ia melanjutkan kembali ke Vervolgschool (setingkat Sekolah Dasar hingga kelas 6) di Pakan Kamis. Sembari sekolah formal, Buyung juga meminta sorenya bisa sekolah di Diniyah School tingkat Ibtidaiyah. Pada tahun 1931 M, ia tamat Vervolgscool sekaligus Diniyah School. Buyung kemudian melanjutkan pendidikan ke Madrasah Tsanawiyah modern yang didirikan oleh seorang tokoh terkenal yaitu H. Mukhtar Lutfi, seorang orator atau ahli pidato terkenal sekaligus pemimpin partai politik PERMI (Persatuan Muslimin Indonesia) yang berpusat di Bukittinggi. Perguruan ini cukup modern pada saat itu dengan mengajarkan tiga bahasa yaitu bahasa Inggris, Belanda dan Arab. Di antara guru-gurunya yang terkenal adalah Syekh H. Abdurrahman, H. Darwis Tamam dan Muhammad Dawam.

Atas saran dari gurunya, Buyung menempuh pendidikan tinggi di Islamic Colleg yang dipimpim Mukhtar Yahya dari Mesir. Ia bergabung dengan organisasi Himpunan Pemuda Islam Indonesia (HPII). Lewat organisasi pemuda inilah kepandaian Buyung untuk berpidato serasa mendapat tempat yang baik. Ia merupakan salah satu ahli pidato yang dimiliki oleh organisasi ini. Hampir setiap hari Buyung berkeliling kampung memenuhi undangan pidato. Semula setiap kali berpidato, Buyung selalu berdalih untuk menyebarkan agama Islam. Tetapi dalam setiap kesempatan, Ia juga dengan berapi-api membakar semangat warga negara .

Setiap berpidato di berbagai tempat, Ia sering menyingkat namanya menjadi BY Arifin. Akhirnya banyak orang yang bertanya apakah arti dari BY itu. BY tak lain adalah singkatan dari Buyung. Atas saran dari sahabatnya nama itu diubah menjadi Bey layaknya sebutan untuk bangsawan Turki. Buyung merasa cocok dengan nama tersebut. Semenjak itu namanya berubah menjadi Bey Arifin.

Pada bulan Agustus 1939 M, Bey Arifin memutuskan merantau ke Jakarta. Di kota itu, ia tinggal di rumah advokat AM Sangaji yang kebetulan juga pembantu H. Agus Salim sebagai penggerak bangsa Indonesia dari perkumpulan PSII (Partai Serikat Islam Indonesia). Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Bey Arifin untuk bisa sering bertemu dengan H. Agus Salim yang sebenarnya juga ahli pidato. Dari H. Agus Salim inilah banyak pengalaman diperoleh untuk meningkatkan kemampuan sebagai seorang orator. Selain itu ia juga aktif mendatangi setiap kegiatan partai politik yang berpusat di Gedung Nasional Jalan Raden Saleh. Bey Arifin pun berkenalan dengan Mr. Mohammad Yamin, M. Husni Tamrin dan Dr. Ahmad Gani.

Menurut Totok Djuruto, penulis buku Perjalanan Panjang Seorang Dai,  masa revolusi merupakan masa yang sulit bagi Bey Arifin karena harus berpindah-pindah lantaran situasi politik dan keamanan yang tidak menentu. Bey Arifin sempat berpindah ke Madiun bersama istri dan anaknya. Disana ia mendapat tawaran untuk mengajar, menjadi guru agama di Sekolah Menengah Islam (SMI) dan sering diundang berpidato berkeliling daerah Ponorogo, Magetan, Ngawi. Bahkan pada saat meletusnya peristiwa Madiun Affairs (1948 M), Bey Arifin juga hampir ditangkap.

Setelah Cukup lama menetap di Kota Madiun, pada bulan Juli 1949 M, Bey Arifin bisa kembali ke Surabaya. Dengan bantuan beberapa sahabat dan kenalannya ia mendapatkan tempat tinggal dan mengajar di berbagai tempat seperti Yayasan Pendidikan Al- Irsyad dan MES (Modern English School). Karena Bey Arifin sudah sangat terkenal, Kolonel Sudirman dari resimen 17 Brawijaya memintanya agar mau terjun sebagai militer. Resimen 17 Brawijaya sedang membutuhkan seorang imam Agama Islam. Bey Arifin menjadi imam tentara pada resimen 17 Brawijaya dengan pangkat letnan satu. Mulailah Bey Arifin dengan tugas barunya memberikan ceramah pembinaan mental Agama Islam bagi para prajurit yang tergabung dalam kompi-kompi. Dengan kemahirannya berpidato dan terkadang juga disertai humor, ia sangat disenangi oleh semua lapisan tentara.  

Bey Arifin terkenal produktif dalam menulis. Beliau menulis beberapa buku dan menerjemah. Tulisannya sering dimuat di berbagai majalah seperti Harian Pelita dan Suara Rakyat. Beberapa buku yang pernah ditulis diantaranya; Rangkaian Cerita Dalam Al-Qur’an (1950 M), Mengenal Tuhan 1 (1960 M) Mengenal Tuhan 2 (1963 M), Samudra al-Fatihah (1966 M), Hidup Sesudah Mati (1969 M), Dinamika Iman (1980 M), Hidup Sebelum Mati (1986 M) dan masih banyak lagi yang lainnya.

(AN)

Sumber Berita: islami.co

PANJI ISLAM
Portal Berita Islam – Portal Berita Islam Terpercaya

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Tags: agamaagus salimArifinAsalBeyBey ArifinBukittinggiilmuIslamidotcoMenimbaMuballighParaTempatTentara

ADVERTISEMENT
Previous Post

Rajab: Bulan Hijrahnya Para Sahabat Nabi ke Habasyah dan Pertama Kali dalam Sejarah Islam

Next Post

Kisah Khawlah binti al-Azwar: Pejuang Perempuan Misterius yang Mengguncang Sejarah Ajnadain

Berita Terkait

Abdullah bin Salam: Dari Yahudi ke Islam  – Portal Islam
Khazanah Islam

Abdullah bin Salam: Dari Yahudi ke Islam – Portal Islam

by Panji Islam
Rabu. 4 Maret 2026 10:22
Badar: Mengenang Kembali Momentum Pembuktian Janji Allah  – Portal Islam
Cover Story

Badar: Mengenang Kembali Momentum Pembuktian Janji Allah – Portal Islam

by Panji Islam
Senin. 2 Maret 2026 12:40
Keajaiban Malam ke-24: Kisah Wanita Buta yang Kembali Melihat di Bulan Ramadan  – Portal Islam
Cover Story

Keajaiban Malam ke-24: Kisah Wanita Buta yang Kembali Melihat di Bulan Ramadan – Portal Islam

by Panji Islam
Jumat. 6 Maret 2026 02:05
Muhammadiyah Tetapkan Idulfitri 1447 H Jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026  – Portal Islam
Khazanah Islam

Muhammadiyah Tetapkan Idulfitri 1447 H Jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026 – Portal Islam

by Panji Islam
Senin. 2 Maret 2026 11:58
Kisah dan Hikmah

Prof. Nasaruddin Umar: Mimpi Buruk Belum Tentu dari Bisikan Setan – Kisah Islam

by Panji Islam
Minggu. 20 April 2025 22:18
Tangis Umat Islam di 17 Ramadhan, Sayyidah Aisyah Berpulang dalam Keadaan Shalat – Kisah Islam
Kisah dan Hikmah

Kisah Pernikahan Rasulullah dengan Aisyah di Bulan Syawal, Istri Nabi Paling Cerdas – Kisah Islam

by Panji Islam
Minggu. 20 April 2025 22:01
Mengapa Nabi Ibrahim Dijuluki Bapak Para Nabi? – Islami[dot]co  – Kisah Islam
Kisah dan Hikmah

Mengapa Nabi Ibrahim Dijuluki Bapak Para Nabi? – Islami[dot]co – Kisah Islam

by Panji Islam
Minggu. 20 April 2025 15:08
Next Post

Kisah Khawlah binti al-Azwar: Pejuang Perempuan Misterius yang Mengguncang Sejarah Ajnadain

Nisfu Syaban Adakah Dalilnya? Begini Penjelasannya

Nisfu Syaban Adakah Dalilnya? Begini Penjelasannya

Batas Waktu Salat Isya Sampai Jam Berapa?

Batas Waktu Salat Isya Sampai Jam Berapa?

Discussion about this post

Berita Populer

  • Surat Ad-Dhuha Latin, Arab dan Artinya Beserta Keutamaannya

    Surat Ad-Dhuha Latin, Arab dan Artinya Beserta Keutamaannya

    2484 shares
    Share 994 Tweet 621
  • Bacaan Ayat 1000 Dinar Lengkap dengan Bahasa Arab, Latin dan Waktu Terbaik Membacanya

    1601 shares
    Share 640 Tweet 400
  • Macam Tanda Waqaf dalam Al-Qur’an Serta Cara Membacanya

    1512 shares
    Share 605 Tweet 378
  • Cara Membaca Tajwid Surat An-Nas Beserta Penjelasannya

    1252 shares
    Share 501 Tweet 313
  • Hukum Tajwid Surat Al Baqarah Ayat 155, Beserta Penjelasan dan Cara Membaca

    1143 shares
    Share 457 Tweet 286

Berita Terbaru

Menapak Tilas Hubungan Asli NU dan Rabithah Alawiyah – Polemik Nasab Habib
Nasab Habib

Menapak Tilas Hubungan Asli NU dan Rabithah Alawiyah – Polemik Nasab Habib

18 jam ago
Antara Taipan Yahudi George Soros dan Rumail Abbas – Polemik Nasab Habib
Nasab Habib

Menguji Statement “Jangan Generalisir Klan Habib Baalwi, Setiap Suku Ada Yang Baik dan Buruk” – Polemik Nasab Habib

19 jam ago
Buku “Y-DNA Nabi Muhammad SAW” Hadirkan Pendekatan Genetika dalam Kajian Nasab Islam Modern – Polemik Nasab Habib
Nasab Habib

Buku “Y-DNA Nabi Muhammad SAW” Hadirkan Pendekatan Genetika dalam Kajian Nasab Islam Modern – Polemik Nasab Habib

20 jam ago
KH Imaduddin Utsman Al-Bantani Luncurkan Buku “Fakta Historis Usman bin Yahya Menurut Sumber Primer” – Polemik Nasab Habib
Nasab Habib

KH Imaduddin Utsman Al-Bantani Luncurkan Buku “Fakta Historis Usman bin Yahya Menurut Sumber Primer” – Polemik Nasab Habib

21 jam ago
ADVERTISEMENT
Panji Islam Portal Berita Islam Terpercaya di Indonesia | Portal Islam | Situs Islam

© 2026 Panji Islam - by RWD

Portal Berita Islam

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Terms & Conditions
  • Cookies
  • Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Donasi

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita Islam
    • Cover Story
    • Islam Indonesia
    • Islam Internasional
    • Palestina Terkini
    • Umroh dan Haji
    • Politik
  • Kajian
    • Gaya Hidup Muslim
    • Hiburan Islami
    • Jendela Keluarga
    • Oase Iman
    • Hukum Islam
  • Khazanah Islam
    • Khazanah Ramadhan
    • Khazanah Ponpes
    • Sejarah Islam
    • Sejarah Islam Nusantara
    • Peristiwa
    • Video
  • Kisah dan Hikmah
Al Qur'an Online
-

© 2026 Panji Islam - by RWD