• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Terms & Conditions
  • Cookies
  • Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Donasi
YOUTUBE
Panji Islam Portal Berita Islam Terpercaya di Indonesia | Portal Islam | Situs Islam
No Result
View All Result
  • Login
Al Qur'an Online
Selasa, 16 Juni 2026
  • Home
  • Berita IslamNEW
    • Cover Story
    • Islam Indonesia
    • Islam Internasional
    • Palestina Terkini
    • Umroh dan Haji
    • Politik
  • Kajian
    • Gaya Hidup Muslim
    • Hiburan Islami
    • Jendela Keluarga
    • Oase Iman
    • Hukum Islam
  • Khazanah Islam
    • Khazanah Ramadhan
    • Khazanah Ponpes
    • Sejarah Islam
    • Sejarah Islam Nusantara
    • Peristiwa
    • Video
  • Kisah dan Hikmah
  • Home
  • Berita IslamNEW
    • Cover Story
    • Islam Indonesia
    • Islam Internasional
    • Palestina Terkini
    • Umroh dan Haji
    • Politik
  • Kajian
    • Gaya Hidup Muslim
    • Hiburan Islami
    • Jendela Keluarga
    • Oase Iman
    • Hukum Islam
  • Khazanah Islam
    • Khazanah Ramadhan
    • Khazanah Ponpes
    • Sejarah Islam
    • Sejarah Islam Nusantara
    • Peristiwa
    • Video
  • Kisah dan Hikmah
Panji Islam Portal Berita Islam Terpercaya di Indonesia | Portal Islam | Situs Islam
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Berita Islam

Lima Tantangan Berat Pemerintahan Asy-Syaraa di Suriah: Apa Saja Itu? – Portal Berita Islam

Selasa. 15 April 2025 10:12
Reading Time: 6 mins read
438
A A
0
Lima Tantangan Berat Pemerintahan Asy-Syaraa di Suriah: Apa Saja Itu?  – Portal Berita Islam

#image_title

829
SHARES
2.3k
VIEWS
FacebookWhatsApp
ADVERTISEMENT

Baca Lainnya

Panduan Imsakiyah Surabaya & Hikmah Nuzulul Qur’an: 12 Ramadan 1447 H – Portal Islam

Panduan Imsakiyah Kota Semarang 12 Ramadan 1447 H – Portal Islam

Hikmah dan Pelajaran Penting Dibalik Peristiwa Isra Mikraj – Portal Berita Islam

Negara Arab Umumkan Perubahan Jadwal Salat Jumat, Apa Penyebabnya? – Portal Berita Islam

PANJI ISLAM – Portal Berita Islam – Portal Islam Indonesia

Pada 29 Maret lalu, para menteri pemerintahan transisi Suriah mengucapkan sumpah jabatan di Istana Rakyat, Damaskus, empat bulan setelah runtuhnya rezim Assad. Resume para menteri menunjukkan keahlian yang mumpuni, selaras dengan tugas yang mereka emban. Pembentukan pemerintahan teknokrat ini bukan sekadar formalitas, melainkan cerminan stabilitas otoritas pusat di Damaskus, sekaligus gambaran keragaman agama, etnis, dan politik masyarakat Suriah—meski belum sepenuhnya ideal. Lebih dari itu, langkah ini mencerminkan visi Presiden Ahmad Asy-Syaraa dalam menjawab kebutuhan masa depan dan menghadapi tantangan yang kini melanda negeri serta dirinya sendiri.

Pada 7 April, pemerintahan menggelar rapat perdana. Dalam kesempatan itu, Asy-Syaraa menetapkan garis besar agenda: pemulihan ekonomi, reformasi institusi negara, rekonstruksi, dan perdamaian sipil. Agenda-agenda ini menegaskan bahwa Suriah tengah berada di persimpangan kritis. Langkah yang diambil pemerintahan akan menentukan stabilitas negara dan wujud sistem pemerintahan permanen dalam lima tahun ke depan—cikal bakal Suriah baru.

Meski agenda rapat berfokus pada tantangan internal, ada pula ancaman strategis eksternal yang tak disebutkan secara eksplisit dalam laporan resmi, namun mudah dipahami. Pemerintahan transisi kini menghadapi sejumlah rintangan besar, yang dapat dirangkum dalam lima tantangan utama berikut:

1. Ancaman “Israel”

Sehari setelah oposisi menguasai Damaskus pada 9 Desember, Menteri Pertahanan “Israel”, Yoel Katz, memerintahkan operasi militer besar-besaran di Suriah. Tujuannya jelas: memastikan kemenangan oposisi tak mengancam keamanan “Israel”, melemahkan kemampuan militer Suriah hingga tak mampu membentuk angkatan bersenjata baru yang dapat menjadi ancaman strategis, serta memanfaatkan momentum untuk menciptakan fakta baru di lapangan. “Israel” menargetkan penguasaan zona penyangga dan wilayah strategis, seperti puncak Gunung Sheikh, dengan membombardir sistem senjata berat, jaringan pertahanan udara, rudal, dan fasilitas pantai, sambil melancarkan operasi darat di wilayah Suriah.

Seiring waktu, tujuan politik “Israel” semakin kentara: melemahkan pemerintahan pusat agar tak mampu membangun negara yang kuat, tanpa mendorongnya hingga runtuh. Caranya? Mendukung kelompok minoritas, menjalin hubungan dengan komunitas mereka untuk membentuk otonomi, serta menghambat pengaruh Turki, yang dianggap sebagai ancaman utama bagi ambisi “Israel”. Meski berulang kali diprovokasi, Asy-Syaraa menunjukkan sikap terkendali, bahkan dalam pernyataan publik, dan memilih saluran diplomatik melalui negara-negara Arab untuk meredam agresi “Israel”. Selama empat bulan sebelum pemerintahan transisi terbentuk, “Israel” gagal mencapai kemajuan politik signifikan, tetapi berhasil mengacaukestabilan di wilayah selatan dan memperuncing ketegangan antara Sweida dan Damaskus.

Di sisi lain, Turki berupaya mendirikan pangkalan militer besar di Suriah demi beberapa tujuan: mencegah kembalinya ISIS, menghalau milisi Iran, memastikan kesepakatan antara Pasukan Demokrasi Suriah (SDF) dan pemerintahan pusat, mengakhiri otonomi SDF, serta membatasi ancaman “Israel”. Bandara militer Al-Tiyas di titik T4, Suriah tengah, dianggap ideal untuk pangkalan udara atau penempatan rudal darat-ke-udara. Lokasinya yang strategis—220 km dari Dataran Tinggi Golan, 250 km dari perbatasan Turki, dan 175 km dari perbatasan Irak—memungkinkan Turki mengendalikan dinamika regional. Kehadiran Turki memaksa “Israel” menghindari bentrokan langsung, sesuatu yang tak diinginkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Karena kebijakan Netanyahu terhadap pengaruh Turki tak didukung Amerika, ia terpaksa bernegosiasi melalui mediasi Amerika untuk mencegah konflik di Suriah. Ini berarti kehadiran militer Turki akan makin kuat, melemahkan agresi “Israel”, dan membatasi kemampuannya menciptakan fakta permanen. Turki menjadi penjamin stabilitas regional, mencegah kembalinya ancaman Iran dan terorisme, sekaligus melindungi kepentingan keamanan nasionalnya, kawasan, serta Amerika dan Eropa. Damaskus, dengan independensi yang lebih besar dari perkiraan umum, memiliki ruang untuk menentukan langkahnya. Meski Turki memainkan peran kunci melawan ancaman “Israel”, Damaskus harus mengandalkan diplomasi dan sekutu Arab serta Barat untuk meredam eskalasi, sambil membangun mekanisme lokal guna melemahkan intervensi “Israel”.

Sementara pasukan pemerintah, yang masih dalam tahap pembentukan, menghindari konfrontasi langsung dengan “Israel” untuk mencegahnya memanfaatkan keunggulan militer, tantangan ini menuntut strategi jangka panjang. Salah satunya adalah memperkuat perlawanan bersenjata rakyat di selatan. Tanda-tanda perlawanan muncul pada 3 April di Koya, selatan Deraa, sebagai respons terhadap invasi “Israel”. Kemarahan publik yang meningkat dapat memicu perlawanan yang lebih terorganisir—sesuatu yang kemungkinan tak diinginkan “Israel”, mengingat pengalamannya di Lebanon. Operasi “Israel” mungkin bertujuan memperkuat posisinya dalam perjanjian damai masa depan untuk mempertahankan Golan dan pangkalan strategis. Namun, bagi Damaskus, prioritas kini adalah menghentikan ancaman “Israel”, bukan memikirkan negosiasi jangka panjang.

2. Pelucutan Senjata dan Pembangunan Militer

Runtuhnya rezim Assad diikuti lenyapnya angkatan bersenjata. Prajurit meninggalkan senjata, perwira melarikan diri ke pesisir atau luar negeri. Pasukan Operasi Penangkal Agresi, yang terdiri dari lebih dari 80 faksi oposisi, menjadi penutup kekosongan. Meski berbeda ideologi dengan Hayat Tahrir al-Sham, faksi-faksi ini bersatu dalam operasi tersebut, memudahkan integrasi mereka ke dalam angkatan bersenjata baru yang diimpikan Asy-Syaraa: profesional, tanpa wajib militer, mampu melindungi negara, dan bebas dari bayang-bayang masa lalu. Visi ini mendapat sambutan hangat dari rakyat.

Namun, membangun angkatan bersenjata profesional bukan perkara mudah. Waktu menjadi kendala utama. Untuk mencegah pengulangan sejarah kelam, reintegrasi perwira rezim lama tak lagi menjadi opsi. Di sisi lain, keahlian baru yang dibutuhkan tak sepenuhnya tersedia di Suriah, sehingga integrasi pembelot tertunda. Proses ini diperparah oleh waktu yang panjang untuk membentuk angkatan bersenjata yang solid. Pemberontakan sisa-sisa rezim di pesisir pada Maret lalu menyingkap urgensi mempercepat integrasi faksi, melatih mereka dengan disiplin baru, dan melucuti senjata yang tersebar luas di kalangan masyarakat akibat perang berkepanjangan.

Untuk mewujudkan stabilitas, pemerintahan transisi perlu menggandeng keahlian dari sekutu, seperti Eropa, Turki, negara-negara Teluk, dan Kanada, baik untuk pelatihan maupun penguatan militer. Turki, dengan peran sentralnya, akan menjadi kunci. Pembentukan angkatan bersenjata nasional juga menuntut undang-undang yang mengatur, yang belum terbit karena ketiadaan dewan legislatif. Angkatan bersenjata ini harus mencerminkan keragaman demografis secara adil, dengan aturan yang menjamin netralitas dan independensi dari dinamika politik, serta mencegah militerisasi politik seperti di masa lalu. Diskusi publik kini berkisar pada doktrin militer yang selaras dengan visi negara modern.

3. Rekonstruksi dan Pemulihan Ekonomi

Suriah hari ini adalah negeri yang porak-poranda. Kas negara kosong, separuh kota besar hancur, infrastruktur lumpuh, listrik dan energi di ambang kolaps. Sekitar 90% penduduk hidup di bawah garis kemiskinan, lebih dari 1,5 juta orang terlantar di kamp-kamp. Sanksi ekonomi, terutama Undang-Undang Caesar dari Amerika, memperparah keadaan dengan memblokir dana dan bantuan ke Damaskus. Meski ada antusiasme dari negara-negara Arab dan Eropa untuk membantu, sanksi ini menjadi penghalang utama. Upaya membujuk Amerika mencabut sanksi, termasuk membuka kode SWIFT untuk bank sentral, belum membuahkan hasil.

Pemerintahan Trump tampaknya mendukung keinginan “Israel” untuk menjaga Suriah tetap lemah, terutama secara militer, tanpa mendorongnya ke jurang ketidakstabilan yang dapat mengguncang Timur Tengah dan keamanan global. Namun, sanksi berkepanjangan berisiko memicu efek samping: Damaskus mungkin terdorong mengambil kebijakan yang bertentangan dengan kepentingan Amerika, meningkatkan ketidakstabilan regional, dan membuka celah bagi kelompok ekstremis. Menyadari risiko ini, pemerintahan transisi tak punya pilihan selain merancang strategi adaptasi, membangun negara dengan asumsi sanksi akan berlanjut. Dukungan lingkungan regional yang antusias, ditambah komitmen Damaskus untuk menegaskan Suriah sebagai negara damai yang tak ingin mengekspor krisis, menjadi modal berharga untuk menavigasi tantangan ini.

4. Keamanan dan Stabilitas

Runtuhnya angkatan bersenjata diikuti lenyapnya aparat keamanan. Mengingat sejarah kelam aparat keamanan dalam pembantaian, penindasan, dan penghilangan paksa, ada konsensus untuk membangun badan keamanan baru yang menjamin ketertiban tanpa mengulang masa lalu. Polisi dibubarkan, dan Badan Keamanan Umum yang dibentuk di Idlib menjadi fondasi awal untuk badan keamanan nasional guna mengisi kekosongan pasca-rezim.

Namun, personel Badan Keamanan Umum terbatas, tak cukup untuk mengamankan wilayah luas di luar Idlib dan Aleppo. Pendaftaran dibuka dengan syarat ketat untuk mencegah kembalinya pengaruh rezim lama, diikuti pelatihan cepat yang ternyata menunjukkan kelemahan dalam menegakkan hukum. Ada wacana memperkuat peran komunitas lokal dengan menempatkan personel keamanan dari daerah masing-masing, meski ini berisiko mengurangi otoritas mereka. Tanpa undang-undang yang mengatur pembentukan pasukan keamanan—yang dibubarkan bersama angkatan bersenjata pada 30 Desember—kekosongan keamanan tak bisa menunggu.

Badan Keamanan Umum mendapat dukungan luas, memudahkan pembuat undang-undang merumuskan struktur yang selaras dengan capaian saat ini. Namun, isu peran komunitas lokal dalam keamanan dapat memicu debat. Keamanan, yang terkait erat dengan ekonomi, menjadi kunci pemulihan, investasi, dan stabilitas. Ini juga penting untuk meredam pemberontakan, tuntutan otonomi di pesisir dan Sweida, serta upaya melemahkan pemerintahan pusat. Keadilan transisional tak kalah krusial. Mengabaikannya demi transisi politik dapat memicu kekerasan di masa depan, mengingat lebih dari satu juta korban tewas, ratusan ribu hilang, dan tiga juta penyandang disabilitas akibat 14 tahun konflik. Pembentukan badan keadilan transisional, sebagaimana diatur dalam deklarasi konstitusional, mendesak, meski pelaksanaannya menunggu stabilitas keamanan.

5. Pembangunan Institusi Pemerintahan

Tujuan akhir pemerintahan transisi adalah transisi politik: membangun kembali institusi, menyusun konstitusi permanen, dan menyiapkan pemilu umum dalam lima tahun. Ini menuntut partisipasi politik luas dan undang-undang partai. Namun, ketidakstabilan dapat mendorong pemerintahan bersikap hati-hati terhadap aktivitas partai, sambil menjaga kebebasan politik—keseimbangan yang rumit.

Asy-Syaraa memanfaatkan administrasi politik Idlib, yang diperluas ke hampir seluruh provinsi. Namun, keputusan kontroversial Menteri Luar Negeri pada 27 Maret, yang membentuk Sekretariat Umum untuk Urusan Politik untuk mengatur aktivitas politik dan memanfaatkan aset Partai Baath, memicu polemik. Banyak yang melihatnya sebagai upaya membentuk partai penguasa, mengulang sejarah Baath. Tanpa mekanisme pembatalan, keputusan ini menyingkap tantangan dalam membangun institusi: birokrasi lama dan regulasi usang harus diganti dengan sistem modern yang transparan. Meski para menteri kompeten di bidangnya, kurangnya pengalaman pemerintahan menjadi hambatan.

Tantangan Lain

Selain lima tantangan utama, ada isu lain yang lebih ringan, seperti hubungan dengan Rusia, diplomasi internasional, menarik diaspora Suriah, bermitra dengan masyarakat sipil untuk rekonstruksi, menciptakan iklim investasi, dan mereformasi pendidikan. Keberhasilan pemerintahan bergantung pada dua hal: dukungan rakyat yang kuat untuk mengatasi tantangan keamanan dan pemberontakan, serta semangat kolektif untuk membangun kembali negara dengan melibatkan semua komponen masyarakat, mencegah jurang antara negara dan rakyat.

*^*


Artikel ini merupakan terjemahan dan penyesuaian dari opini berbahasa Arab yang ditulis oleh Abdul Rahman Al-Haj dan dipublikasikan di situs Aljazeera.net dengan judul asli: “Khamsatu Tahaddiyat Tuwājihu Ḥukūmat al-Sharāʿ fī Sūriyā” (Lima Tantangan yang Dihadapi Pemerintahan Asy-Syaraa di Suriah).

 

Sumber Berita: www.arrahmah.id

PANJI ISLAM
Portal Berita Islam – Portal Berita Islam Terpercaya

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Tags: ApaAsySyaraaBeratberitaislamItuLimaPemerintahanportalSajasuriahTantangan

ADVERTISEMENT
Previous Post

Muhammadiyah Sikapi Fatwa Jihad Internasional: Dukung Perjuangan Palestina Lewat Kemanusiaan – Portal Berita Islam

Next Post

Arab Saudi Setujui Tambahan Kuota Petugas Haji Indonesia, Total Jadi 4.420 Orang – Portal Berita Islam

Berita Terkait

Panduan Imsakiyah Surabaya & Hikmah Nuzulul Qur’an: 12 Ramadan 1447 H  – Portal Islam
Berita Islam

Panduan Imsakiyah Surabaya & Hikmah Nuzulul Qur’an: 12 Ramadan 1447 H – Portal Islam

by Panji Islam
Senin. 2 Maret 2026 11:40
Panduan Imsakiyah Kota Semarang 12 Ramadan 1447 H  – Portal Islam
Berita Islam

Panduan Imsakiyah Kota Semarang 12 Ramadan 1447 H – Portal Islam

by Panji Islam
Senin. 2 Maret 2026 11:35
Hikmah dan Pelajaran Penting Dibalik Peristiwa Isra Mikraj  – Portal Berita Islam
Berita Islam

Hikmah dan Pelajaran Penting Dibalik Peristiwa Isra Mikraj – Portal Berita Islam

by Panji Islam
Jumat. 30 Januari 2026 05:01
Negara Arab Umumkan Perubahan Jadwal Salat Jumat, Apa Penyebabnya?  – Portal Berita Islam
Berita Islam

Negara Arab Umumkan Perubahan Jadwal Salat Jumat, Apa Penyebabnya? – Portal Berita Islam

by Panji Islam
Jumat. 12 Desember 2025 14:04
Tak Disangka, Minuman ‘Surga’ dalam Al-Qur’an Bisa Ditemukan di RI  – Portal Berita Islam
Berita Islam

Tak Disangka, Minuman ‘Surga’ dalam Al-Qur’an Bisa Ditemukan di RI – Portal Berita Islam

by Panji Islam
Kamis. 11 Desember 2025 14:48
30 Ungkapan Belasungkawa dan Doa Islami untuk Korban Banjir  – Portal Berita Islam
Berita Islam

30 Ungkapan Belasungkawa dan Doa Islami untuk Korban Banjir – Portal Berita Islam

by Panji Islam
Kamis. 11 Desember 2025 14:35
Prabowo Resmi Umumkan Biaya Haji 2026, Ini Angkanya!  – Portal Berita Islam
Berita Islam

Prabowo Resmi Umumkan Biaya Haji 2026, Ini Angkanya! – Portal Berita Islam

by Panji Islam
Selasa. 9 Desember 2025 10:21
Next Post
Arab Saudi Setujui Tambahan Kuota Petugas Haji Indonesia, Total Jadi 4.420 Orang  – Portal Berita Islam

Arab Saudi Setujui Tambahan Kuota Petugas Haji Indonesia, Total Jadi 4.420 Orang - Portal Berita Islam

FPI Nyatakan Dukungan Penuh terhadap Fatwa Jihad Ulama Muslim Internasional  – Portal Berita Islam

FPI Nyatakan Dukungan Penuh terhadap Fatwa Jihad Ulama Muslim Internasional - Portal Berita Islam

Perang Dagang AS Mencuat, Kapitalisme Sumber Penderitaan Rakyat  – Portal Berita Islam

Perang Dagang AS Mencuat, Kapitalisme Sumber Penderitaan Rakyat - Portal Berita Islam

Discussion about this post

Berita Populer

  • Surat Ad-Dhuha Latin, Arab dan Artinya Beserta Keutamaannya

    Surat Ad-Dhuha Latin, Arab dan Artinya Beserta Keutamaannya

    2484 shares
    Share 994 Tweet 621
  • Bacaan Ayat 1000 Dinar Lengkap dengan Bahasa Arab, Latin dan Waktu Terbaik Membacanya

    1601 shares
    Share 640 Tweet 400
  • Macam Tanda Waqaf dalam Al-Qur’an Serta Cara Membacanya

    1512 shares
    Share 605 Tweet 378
  • Cara Membaca Tajwid Surat An-Nas Beserta Penjelasannya

    1252 shares
    Share 501 Tweet 313
  • Hukum Tajwid Surat Al Baqarah Ayat 155, Beserta Penjelasan dan Cara Membaca

    1143 shares
    Share 457 Tweet 286

Berita Terbaru

Menapak Tilas Hubungan Asli NU dan Rabithah Alawiyah – Polemik Nasab Habib
Nasab Habib

Menapak Tilas Hubungan Asli NU dan Rabithah Alawiyah – Polemik Nasab Habib

5 jam ago
Antara Taipan Yahudi George Soros dan Rumail Abbas – Polemik Nasab Habib
Nasab Habib

Menguji Statement “Jangan Generalisir Klan Habib Baalwi, Setiap Suku Ada Yang Baik dan Buruk” – Polemik Nasab Habib

6 jam ago
Buku “Y-DNA Nabi Muhammad SAW” Hadirkan Pendekatan Genetika dalam Kajian Nasab Islam Modern – Polemik Nasab Habib
Nasab Habib

Buku “Y-DNA Nabi Muhammad SAW” Hadirkan Pendekatan Genetika dalam Kajian Nasab Islam Modern – Polemik Nasab Habib

7 jam ago
KH Imaduddin Utsman Al-Bantani Luncurkan Buku “Fakta Historis Usman bin Yahya Menurut Sumber Primer” – Polemik Nasab Habib
Nasab Habib

KH Imaduddin Utsman Al-Bantani Luncurkan Buku “Fakta Historis Usman bin Yahya Menurut Sumber Primer” – Polemik Nasab Habib

8 jam ago
ADVERTISEMENT
Panji Islam Portal Berita Islam Terpercaya di Indonesia | Portal Islam | Situs Islam

© 2026 Panji Islam - by RWD

Portal Berita Islam

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Terms & Conditions
  • Cookies
  • Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Donasi

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita Islam
    • Cover Story
    • Islam Indonesia
    • Islam Internasional
    • Palestina Terkini
    • Umroh dan Haji
    • Politik
  • Kajian
    • Gaya Hidup Muslim
    • Hiburan Islami
    • Jendela Keluarga
    • Oase Iman
    • Hukum Islam
  • Khazanah Islam
    • Khazanah Ramadhan
    • Khazanah Ponpes
    • Sejarah Islam
    • Sejarah Islam Nusantara
    • Peristiwa
    • Video
  • Kisah dan Hikmah
Al Qur'an Online
-

© 2026 Panji Islam - by RWD