• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Terms & Conditions
  • Cookies
  • Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Donasi
YOUTUBE
Panji Islam Portal Berita Islam Terpercaya di Indonesia | Portal Islam | Situs Islam
No Result
View All Result
  • Login
Al Qur'an Online
Senin, 29 Juni 2026
  • Home
  • Berita IslamNEW
    • Cover Story
    • Islam Indonesia
    • Islam Internasional
    • Palestina Terkini
    • Umroh dan Haji
    • Politik
  • Kajian
    • Gaya Hidup Muslim
    • Hiburan Islami
    • Jendela Keluarga
    • Oase Iman
    • Hukum Islam
  • Khazanah Islam
    • Khazanah Ramadhan
    • Khazanah Ponpes
    • Sejarah Islam
    • Sejarah Islam Nusantara
    • Peristiwa
    • Video
  • Kisah dan Hikmah
  • Home
  • Berita IslamNEW
    • Cover Story
    • Islam Indonesia
    • Islam Internasional
    • Palestina Terkini
    • Umroh dan Haji
    • Politik
  • Kajian
    • Gaya Hidup Muslim
    • Hiburan Islami
    • Jendela Keluarga
    • Oase Iman
    • Hukum Islam
  • Khazanah Islam
    • Khazanah Ramadhan
    • Khazanah Ponpes
    • Sejarah Islam
    • Sejarah Islam Nusantara
    • Peristiwa
    • Video
  • Kisah dan Hikmah
Panji Islam Portal Berita Islam Terpercaya di Indonesia | Portal Islam | Situs Islam
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Nasab Habib

Emha Ainun Najib: Nasab dan Harga Diri Bangsa dan Kesadaran Bernegara – Polemik Nasab Habib

Senin. 29 Juni 2026 14:45
Reading Time: 8 mins read
432
A A
0
Emha Ainun Najib: Nasab dan Harga Diri Bangsa dan Kesadaran Bernegara – Polemik Nasab Habib
828
SHARES
2.3k
VIEWS
FacebookWhatsApp
ADVERTISEMENT

Baca Lainnya

Daftar Reportasi Media Tentang Pendiskreditan Habaib Ba’alwi Terhadap NU dan Kiai-Kiai NU – Polemik Nasab Habib

Penjabaran Psikologis: Festival Su’ul Khotimah Klan Habib Baalwi dan Muhibbinnya – Polemik Nasab Habib

Ilham Aidit, Anak D.N. Aidit, Tegaskan Ayahnya Keturunan Ba’alwi Yaman – Polemik Nasab Habib

Membaca Lima Arus Kepentingan Eksternal dalam Muktamar NU 2026 – Polemik Nasab Habib

PANJI ISLAM – Emha Ainun Najib: Nasab dan Harga Diri Bangsa dan Kesadaran Bernegara

Penyusun: Rifky Zulkarnaen J. Baswara

Prolog

Saya bukan penulis esai ini. Tulisan berikut merupakan transkrip penuturan Mbah Nun (Emha Ainun Najib) di vlognya berjudul “Mengetahui Leluhur | Mbah Nun Menjawab #40” (08 Februari 2022). Pada tulisan ini saya tidak menambahkan pandangan atau komentar apapun pada penuturan beliau karena uraiannya sudah lengkap.

Kecuali, saya hanya menambahkan penjelasan singkat saja pada terma ‘habib’ yang digunakan Mbah Nun sebagai kata ganti ‘turunan nabi’ bahwa penggunaan terma itu tidak merujuk pada maksud bahwa Klan Habib Baalwi adalah keturunan nabi dan tidak pula merujuk pada maksud bahwa ‘habib’ adalah gelar bagi keturunan nabi. Mengenai hal itu pada ceramah-ceramah Mbah Nun lainnya, secara terpisah-pisah, beliau menyatakan bahwa gelar bagi keturunan nabi adalah sayid syarif sedangkan gelar habib tidak ada hubungannya dengan keturunan nabi. Saya pun pula sudah mendudukkan perkara simpang siur penggunaan gelar ‘habib, sayid, syarif’ yang menjadi salah satu bibit penjajahan dan ancaman atas eksistensi bangsa dan negara pada tulisan ‘Dekonstruksi Gelar Habib Menghentikan Penjajahan: Khususnya untuk Warga NU dan Muhammadiyah’ di link berikut ini .

Tulisan ini saya hadirkan ke publik khususnya warga NU  (yang belum tobat) dengan tujuan memperluas spektrum kesadaran mengenai urusan nasab bahwa urusan nasab pribumi Nusantara mulai dari skala individu per individu atau keluarga bukan urusan sepele terbatas internal keluarga melainkan implikatif terhadap kesadaran sosial, bernegara, kebangsaan, dan politik bangsa kita. Urusan nasab pribumi merupakan akar nasib masa depan bangsa kita.

Jangan sampai bangsa kita—anak cucu Anda kelak, dicurut-curutkan, ditikus-tikuskan, dianjing-anjingkan, dimonyet-monyetkan lagi oleh Klan Habib Baalwi, Imigran Hadhrami Yaman, dan oleh bangsa mana saja—kita dibuat bermental dan berharga diri sekecil-kecilnya, serendah-rendahnya, dan Anda rela hati menerimanya saja karena berparadigma ‘kita memang begitu’ berdasar nasab dan sejarah—karena kebutaan akan nasab dan sejarah (kepaten obor); dengan secara bersamaan memandang dengan pasti bahwa nasab dan sejarah Klan Habib Baalwi atau bangsa lainnya pasti hebat, lebih hebat, jauh lebih dahsyat, karena mereka cucu Nabi sementara kita (pribumi) dipasti-pastikan bukan cucu Nabi dan hanyalah tikus-tikus selokan yang berkepantasan diperlakukan sembarangan.

Banyak orang, juga banyak kyai, saya dengar mengatakan bahwa urusan nasab adalah urusan sepele, tidak penting. Saya tidak menyetujui itu namun saya diamkan saja karena pada waktu itu saya enggan bertikai pikiran. Sekarang, saya meminjam atau lebih tepatnya menyodorkan pemaparan Mbah Nun untuk menjelaskan betapa pentingnya nasab Anda (pribumi) bagi nasib bangsa kita.

  1. Muhammad Ainun Najib: Nasab dan Harga Diri Bangsa dan Kesadaran Bernegara

Pertama, saya ikut memuji dan mendoakan mudah-mudahan niatmu untuk mengetahui leluhur itu oleh Allah diapresiasi dihargai, diijabahi, dikasih kemurahan rezeki.

Ada tiga tahap kita sampai leluhur yang bisa kita kenal kemudian sampai Nabi Adam kemudian sampai ke Nur Muhammad kemudian sampai ke Allah sendiri itu semua kan sangkan paran. Jadi kita ndak mungkin ada tanpa ada rute dari Allah, cahaya Allahu nurussamawati wal-ardh terus kemudian Allah memujinya sehingga disebut Nur Muhammad sehingga sampai ke penciptaan makhluk-makhluk yang merupakan upaya elaborasi atau breakdown sampai ke tingkat materialistik dari Nur itu menjadi benda menjadi planet-planet menjadi alam semesta menjadi bumi menjadi galaksi ini tata surya sampai menjadi isi bumi hutan pohon laut semuanya sampai penciptaan manusia. Jadi ada beberapa tahap.

Nah, di dalam kebudayaan bangsa-bangsa di dunia, Jawa yang paling tinggi perhatiannya terhadap leluhur itu. Saya sendiri kan sebagai orang Jawa tidak pernah bisa menghafalkan. Kalau di Jawa kan sekarang kan rata-rata anak-anak itu paling pol pengetahuannya kakek sama nenek, tapi buyut dan seterusnya kalau Jawa itu ada tradisi sampai 18  (delapan belas) tingkat. Jadi, bapak, ibu, kakek, nenek, buyut, canggah, wareng, udek-udek, gantung siwur, goplak sente, debok bosok, galih asem, goprak waton, cendeng, giyeng, cumpleng, ampleng, menyaman, menyo-menyo, trah tumirah. Itu sampai delapan belas tingkat. tentu kan kalau itu dijadikan bagian dari kurikulum pendidikan budaya Jawa kan luar biasa.

Itu kan anak yang tahu diri bisa diukur dari pengetahuannya tentang leluhur. Jadi ini pertanyaan menurut saya sangat kita puji karena dia mau memperhatikan leluhurnya. Tadi kan pertanyaannya bagaimana mengetahui leluhur kita. Nah setiap keluarga mestinya saling bertanya (mencari tahu) satu sama lain secara manual ya bapakmu sopo mbahmu sopo kakek-nenekmu sopo buyutmu sopo dan seterusnya sampai masa lebih jauh lebih ke belakang.

Saya 15 (lima belas) bersaudara dan ada yang kami tugasi untuk melacak itu sehingga dia tanya ke sana-sini ke mbah-mbah, ke orang-orang tua, itu dihimpun supaya pohon sejarah keluarga kami itu jelas. Meskipun tidak bisa terlacak sampai ke-18 tadi. Dan kalau nanti di antara delapan belasnya ada Rasulullah kan nanti jadi habib (maksudnya: sayid syarif) kita kan, jadi ndak enak juga gitu artinya kita sungkan juga kita mengabadikan diri tetapi kalau bisa setiap keluarga itu tanya-tanya secara manual.

Nomor 2 (dua), mempelajari secara tertulis. Kan tetap banyak ada catatan-catatan dari orang-orang tua kemudian juga mengkomparasikan. Oh ini berarti masih saudaranya ini, oh ini mbahnya ini, ini masih berarti kita bertemu di dalam complongan tiga generasi atau empat generasi misalnya gitu. Ternyata kita sedulur (satu saudara). Jadi kita misalnya naik becak ternyata tukang becak yang genjot menolong kita itu adalah saudara kita bisa juga gitu. Itu kan Indah kalau ternyata orang yang selama ini kita anggap cuman tetangga ternyata saudara ternyata seduluran.

Masalahnya memang kita tidak punya disiplin seperti itu, disiplin kita makin turun. Jadi sudah tidak peduli sama dulu kakeknya siapa. Saya waktu maiyahan saya tanya rata-rata nama kakeknya aja gak tahu, nama neneknya juga gak tahu. Itu kan cuma tiga tingkat. Cuma di atas orang tua kita belum menengok buyut, canggah, goprak sente, menyo-menyo, tadi itu kan sudah sangat sukar. jadi menurut saya sangat bagus pertanyaan itu dan tolong dilaksanakan. Allah sudah memberimu hidayah untuk mempertanyakan leluhurmu maka sekarang diusahakan dengan segala berbagai macam cara yang memungkinkan, tanya-tanya ke orang tua, kan bisa aja tanya orang tua di desa kita tanya dulu di generasi jenengan dulu siapa aja di desa ini, ternyata salah satunya adalah buyut kita kan bisa. Makanya saya pribadi dan keluarga melacak dari ibu alurnya ke sana dari ayah saya alurnya kesana terus dari dari Mbah Wedok ke sana Mbah Lanang ke sana dari ayah saya ke sana dan seterusnya itu, itu kita Lumayan lumayan meskipun tidak sampai ke delapan belas tingkat.

Itu nanti, jadi nanti ternyata kita ini seorang yang ada di titik kesekian ternyata Sayyidina Hasan bin Ali misalnya ada yang Husein bin Ali. Habib itu ada dua ya, satu yang dari Sayidina Hasan kita sebut Syarif sama Sayid (penggunaan term habib di situ keliru, pen). Kampung Sayidan berarti dulu kan yang menghuni sayidan di Jogjakarta itu kan adalah para sayid. Artinya keturunan Sayyidina Husein bin Ali bin Muhammad kan gitu kan. Nah salah satu yang harus kita waspadai adalah ternyata kita turunan Nabi Muhammad terus nanti kita jadi komoditas terus itu kita jadikan kebanggaan bahwa kita turunan Rasulullah gitu kan dan seterusnya. Nah itu, kalau saya menghindarkan. Jadi jangan sampai orang tahu bahwa saya keturunan siapa kalau itu nanti bisa menimbulkan fitnah sosial kan gitu. Jadi kadang-kadang diperlukan untuk merahasiakan leluhur kita. Sekarang kalau aku ‘aku ini turunan Brawijaya V’, (dijawab orang) ‘asu bajingan kowe, saya turunan Hayam Wuruk juga’ kan gak enak gitu kan. Kita kadang-kadang justru menyembunyikan nasab kita di keluarga saya itu, kita menyembunyikan nasab kita.

Makanya kalau nanti ada tradisi tarekat di mana kita mengalfatehahi setiap tahap dari leluhur kita, itu kita batasi. Jadi di Padang Bulan kan dibatasi sampai hanya ibu Halimah dan ayah Muhammad gitu ya tidak sampai ke berikut berikutnya meskipun al-fatihah satu kali bisa kita niati berlaku semua leluhur kita juga bisa karena sifatnya kualitatif dan kuantitatif.

“Untuk mengetahui leluhur, apakah mungkin leluhur-leluhur yang kita alfatehahi itu hadir dalam mimpi kita atau memberi kehadiran sosok?” Mungkin mungkin saja karena itu kan metafisika, dunia di atas atau beyond fisik, beyond jasad, jadi dia sudah rohaniyah, dia ruhiyah. Jadi itu mungkin mungkin saja dan saya kira memang sebaiknya kita begitu. Setiap hari itu nyicil al-fatehah raketang ping limo ping pitu ping songo gitu ya kita khususnya untuk para leluhur. Leluhur itu gak ada batasnya makanya kualitatif sifatnya. Ini kita peruntukkan semua, jadi kan Allah ngitungnya juga tidak kuantitatif, tidak berarti kalau kita punya mbah sampai 37 terus kita al-fatehah 37 tapi kekhusukan kita satu kali al-fatehah itu kesungguhan hati dan cinta kita mungkin bisa berlaku untuk 37 itu bisa aja terserah Allah, ya pokoknya yang penting kita ikhlas. Bagaimana kita kan cuman buah kan kita harus tahu pohonnya terus harus tahu tanahnya harus tahu cuacanya itu semua harus kita syukuri.

Jadi pertanyaan itu sangat bagus dan mohon dilaksanakan jangan hanya tanya ke saya, dilaksanakan di keluarga. Digambar, digambar, Bapak, anaknya ini, ibu anaknya ini, mbah-mbahnya ini semampu mungkin seketemunya sebisa-bisanya.

Saya dulu sama ibunya Sabrang keliling naik motor di Jombang ke orang-orang tua untuk kita tanya sehingga saya dapat banyak cerita mengenai buyut saya mengenai Mbah Zahid mengenai Mbah Abdul Latif, Musa, mengenai Sayid Sulaiman, mengenai segala macam-macam dapat cerita banyak meskipun nanti kita harus memetakan harus memverifikasi ya harus memastikan secara rasional gitu ya supaya kita tidak GR (gede rasa) tapi juga tidak minder. Itu kan juga bisa untuk pembangunan karakter, ‘mbahku pendekar kok aku mung ngingah ngingih koyo ngene’ kan bisa juga toh.  Saya bahkan sering mendorong anak itu mbahmu biyen jagoan kok kowe tilang-tileng koyo ngene terus dia gemgregah terus dia hidupnya berubah. Setelah hidupnya berubah baru saya katakan jan-jane mbahmu yo ora pendekar biasa-biasa wae ning kan kowe wes bati sekarang hidupmu bangkit.

Itu pekerjaan yang mengasyikkan. Jadi tanya ke orang-orang tua di desa terus Bapak Ibu juga kita tanyain secara mendasar dan mendetail supaya kita tahu dari mana asalnya kita ini. Dengan mengetahui leluhur kita menjadi lebih tahu diri kita kan gitu. Kalau kita ndak tahu itu kan ming koyo godong kabur kanginan artinya dia tidak mengerti pohonnya di mana dahannya di mana akarnya di mana. Kan ada istilah kabur kanginan, janganlah menjadi manusia yang kabur kanginan. Kita terseret sana-kemari ikut sama sekali ditiup utara ke utara ditiup oleh globalisasi kita ke selatan ditiup oleh medsos ke timur kamu ikut ke timur, itu karena kita tidak punya akar tidak punya landasan dan tidak mengerti leluhur kita kan gitu.

“Mungkin juga ada orang-orang sepuh disekitar kita yang kalau kita tidak datang dan bertanya padahal beliau-beliau tahu mungkin karena kita nggak bertanya jadi enggak memberitahu ya?” Ya iyalah, ngapain ngasih tahu wong dia gak tanya. Makanya di Maiyah nomor satu kan bukan pintar menjawab tapi pintar bertanya, pintar menemukan apa yang ditanyakan. Itulah kunci ilmu. Kalau sekolahan kurikulum kan menyediakan jawaban tetapi murid-murid tidak terdidik untuk kreatif menemukan apa yang perlu ditanyakan. Kan sebenarnya nomor satu kan kunci ilmu kamu tahu apa yang kamu tanyakan. Orang-orang tua tadi ‘ngapain wong kowe ra takon aku yo meneng wae’.

Umpamanya kita menemukan bahwa kita ini keturunan seorang tokoh yang baik pada masa silam kan kita malu kalau ndak menjadi baik juga. Terus kalau ternyata kita turunan orang yang dulu jahat misalnya tokoh yang antagonis entah kriminal entah perampok entah apa kan kita punya pedoman kalau gitu saya tidak akan menjadi seperti itu karena saya adalah anak yang lebih baik daripada orang tua saya kan gitu.

Ndak hanya dalam skala keluarga dan nasab tapi juga skala antropologi. Kita akan seorang enggak tahu lebih tua mana orang Jawa sama Nabi Ibrahim, misalnya, ndak tahu. Kan ndak ada penelitiannya juga dan tidak ada bahannya untuk meneliti juga dan juga tidak ada niat baik dari generasi sekarang untuk mengetahui itu. Misalnya kalau orang Arab sama orang Yahudi kan jelas turunan Ismail sama Ishak bapaknya adalah Nabi Ibrahim. Nah, kalau orang Jawa itu bagian dari Ismail apa bagian dari Ishak ataukah kita itu Mbahnya Ishak? Kan gitu kan bisa aja. Nah, kalau kita mengetahui itu secara agak lebih berskala luas antropologis sosiologis itu maka kita akan bisa punya ilham-ilham baru di dalam hal-hal yang menyangkut perpolitikan, kebudayaan, dan peradaban.

Sekarang kenapa kita ikut Barat? Kalau secara leluhur tadi itu lebih tua mana leluhurnya orang Eropa dengan leluhur kita misalnya? Kalau ternyata lebih tua leluhur kita lah malu dong sekarang kok kita jadi pengikutnya orang barat, kok kita semua menjadi punya nabi yang namanya Renaissance, misalnya gitu ya. Jadi itu saya kira penting tidak hanya untuk individu dan keluarga tapi penting untuk kenegaraan. Kalau Anda jadi kepala negara tidak mengerti antropologi bangsa Anda, Anda juga tidak terdorong untuk memiliki harga diri dan untuk mengangkat harga diri bangsa Anda kan begitu.

Jadi bukan mau umuk masa silam, bukan, tapi kalau kita kacang kita tahu kita kacang kalau kita kedelai kita tahu kita kedelai, gitu lho. Jangan sampai kita ini Garuda tapi perilaku kita emprit karena kita tidak mengenal Garuda dan sekarang kenalnya emprit saja, kita diempritkan oleh Cina diempritkan oleh Eropa oleh Amerika, kan gitu. Sementara kita itu punya nenek moyang Garuda.

Maka mengenai pertanyaan mengenai leluhur itu sangat bagus. Tolong dikembangkan tidak hanya dalam keluarga tapi juga untuk kesadaran-kesadaran sosial, kesadaran bernegara, kesadaran berpolitik dan kesadaran bermasyarakat dan seterusnya.

Sumber Berita: rminubanten.or.id

PANJI ISLAM
Portal Berita Islam – Portal Berita Islam Terpercaya

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Tags: AinunbangsaBernegaraDanDiriEmhaHabibHargaKesadaranNajibNasabNasab HabibPolemik

ADVERTISEMENT
Previous Post

Penjabaran Psikologis: Festival Su’ul Khotimah Klan Habib Baalwi dan Muhibbinnya – Polemik Nasab Habib

Next Post

Daftar Reportasi Media Tentang Pendiskreditan Habaib Ba’alwi Terhadap NU dan Kiai-Kiai NU – Polemik Nasab Habib

Berita Terkait

Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam? – Polemik Nasab Habib
Nasab Habib

Daftar Reportasi Media Tentang Pendiskreditan Habaib Ba’alwi Terhadap NU dan Kiai-Kiai NU – Polemik Nasab Habib

by
Senin. 29 Juni 2026 15:47
Antara Taipan Yahudi George Soros dan Rumail Abbas – Polemik Nasab Habib
Nasab Habib

Penjabaran Psikologis: Festival Su’ul Khotimah Klan Habib Baalwi dan Muhibbinnya – Polemik Nasab Habib

by
Rabu. 24 Juni 2026 23:37
Ilham Aidit, Anak D.N. Aidit, Tegaskan Ayahnya Keturunan Ba’alwi Yaman – Polemik Nasab Habib
Nasab Habib

Ilham Aidit, Anak D.N. Aidit, Tegaskan Ayahnya Keturunan Ba’alwi Yaman – Polemik Nasab Habib

by
Rabu. 24 Juni 2026 16:30
Membaca Lima Arus Kepentingan Eksternal dalam Muktamar NU 2026 – Polemik Nasab Habib
Nasab Habib

Membaca Lima Arus Kepentingan Eksternal dalam Muktamar NU 2026 – Polemik Nasab Habib

by
Rabu. 24 Juni 2026 06:17
Jahil Murakkab dan Runtuhnya Fabrikasi Nasab: Validasi Ilmiah KH. Imaduddin melalui Verifikasi Mustanad dan Genetik – Polemik Nasab Habib
Nasab Habib

Metode Eliminasi dan Epistemologi Nasab: Pengantar dan Apresiasi atas Gagasan Dr. Sugeng Sugiharto – Polemik Nasab Habib

by
Kamis. 18 Juni 2026 21:55
Menapak Tilas Hubungan Asli NU dan Rabithah Alawiyah – Polemik Nasab Habib
Nasab Habib

Menapak Tilas Hubungan Asli NU dan Rabithah Alawiyah – Polemik Nasab Habib

by
Selasa. 16 Juni 2026 02:38
Antara Taipan Yahudi George Soros dan Rumail Abbas – Polemik Nasab Habib
Nasab Habib

Menguji Statement “Jangan Generalisir Klan Habib Baalwi, Setiap Suku Ada Yang Baik dan Buruk” – Polemik Nasab Habib

by
Selasa. 16 Juni 2026 01:37
Next Post
Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam? – Polemik Nasab Habib

Daftar Reportasi Media Tentang Pendiskreditan Habaib Ba’alwi Terhadap NU dan Kiai-Kiai NU - Polemik Nasab Habib

Discussion about this post

Berita Populer

  • Surat Ad-Dhuha Latin, Arab dan Artinya Beserta Keutamaannya

    Surat Ad-Dhuha Latin, Arab dan Artinya Beserta Keutamaannya

    2484 shares
    Share 994 Tweet 621
  • Bacaan Ayat 1000 Dinar Lengkap dengan Bahasa Arab, Latin dan Waktu Terbaik Membacanya

    1602 shares
    Share 641 Tweet 401
  • Macam Tanda Waqaf dalam Al-Qur’an Serta Cara Membacanya

    1512 shares
    Share 605 Tweet 378
  • Cara Membaca Tajwid Surat An-Nas Beserta Penjelasannya

    1253 shares
    Share 501 Tweet 313
  • Hukum Tajwid Surat Al Baqarah Ayat 155, Beserta Penjelasan dan Cara Membaca

    1144 shares
    Share 458 Tweet 286

Berita Terbaru

Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam? – Polemik Nasab Habib
Nasab Habib

Daftar Reportasi Media Tentang Pendiskreditan Habaib Ba’alwi Terhadap NU dan Kiai-Kiai NU – Polemik Nasab Habib

1 jam ago
Emha Ainun Najib: Nasab dan Harga Diri Bangsa dan Kesadaran Bernegara – Polemik Nasab Habib
Nasab Habib

Emha Ainun Najib: Nasab dan Harga Diri Bangsa dan Kesadaran Bernegara – Polemik Nasab Habib

2 jam ago
Antara Taipan Yahudi George Soros dan Rumail Abbas – Polemik Nasab Habib
Nasab Habib

Penjabaran Psikologis: Festival Su’ul Khotimah Klan Habib Baalwi dan Muhibbinnya – Polemik Nasab Habib

5 hari ago
Ilham Aidit, Anak D.N. Aidit, Tegaskan Ayahnya Keturunan Ba’alwi Yaman – Polemik Nasab Habib
Nasab Habib

Ilham Aidit, Anak D.N. Aidit, Tegaskan Ayahnya Keturunan Ba’alwi Yaman – Polemik Nasab Habib

5 hari ago
ADVERTISEMENT
Panji Islam Portal Berita Islam Terpercaya di Indonesia | Portal Islam | Situs Islam

© 2026 Panji Islam - by RWD

Portal Berita Islam

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Terms & Conditions
  • Cookies
  • Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Donasi

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita Islam
    • Cover Story
    • Islam Indonesia
    • Islam Internasional
    • Palestina Terkini
    • Umroh dan Haji
    • Politik
  • Kajian
    • Gaya Hidup Muslim
    • Hiburan Islami
    • Jendela Keluarga
    • Oase Iman
    • Hukum Islam
  • Khazanah Islam
    • Khazanah Ramadhan
    • Khazanah Ponpes
    • Sejarah Islam
    • Sejarah Islam Nusantara
    • Peristiwa
    • Video
  • Kisah dan Hikmah
Al Qur'an Online
-

© 2026 Panji Islam - by RWD