• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Terms & Conditions
  • Cookies
  • Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Donasi
YOUTUBE
Panji Islam Portal Berita Islam Terpercaya di Indonesia | Portal Islam | Situs Islam
No Result
View All Result
  • Login
Al Qur'an Online
Jumat, 15 Mei 2026
  • Home
  • Berita IslamNEW
    • Cover Story
    • Islam Indonesia
    • Islam Internasional
    • Palestina Terkini
    • Umroh dan Haji
    • Politik
  • Kajian
    • Gaya Hidup Muslim
    • Hiburan Islami
    • Jendela Keluarga
    • Oase Iman
    • Hukum Islam
  • Khazanah Islam
    • Khazanah Ramadhan
    • Khazanah Ponpes
    • Sejarah Islam
    • Sejarah Islam Nusantara
    • Peristiwa
    • Video
  • Kisah dan Hikmah
  • Home
  • Berita IslamNEW
    • Cover Story
    • Islam Indonesia
    • Islam Internasional
    • Palestina Terkini
    • Umroh dan Haji
    • Politik
  • Kajian
    • Gaya Hidup Muslim
    • Hiburan Islami
    • Jendela Keluarga
    • Oase Iman
    • Hukum Islam
  • Khazanah Islam
    • Khazanah Ramadhan
    • Khazanah Ponpes
    • Sejarah Islam
    • Sejarah Islam Nusantara
    • Peristiwa
    • Video
  • Kisah dan Hikmah
Panji Islam Portal Berita Islam Terpercaya di Indonesia | Portal Islam | Situs Islam
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Khazanah Islam

Mengandaikan Ekologi Spiritual ala Jawa-Islam di Tengah Fasisme Ekologis

Minggu. 14 Mei 2023 04:15
Reading Time: 4 mins read
456
A A
0
Mengandaikan Ekologi Spiritual ala Jawa-Islam di Tengah Fasisme Ekologis

#image_title

828
SHARES
2.3k
VIEWS
FacebookWhatsApp
ADVERTISEMENT

Baca Lainnya

Yudas Iskariot dan Misteri Penyaliban Nabi Isa – Portal Islam

Taubat Waria: Kedudukan dalam Perspektif Islam – Portal Islam

Waria dalam Perspektif Agama: Hukum dan Pandangan – Portal Islam

Panduan Syariat tentang Identitas dan Peran Gender – Portal Islam

Kiranya banyak yang sepakat bahwa Jawa hari ini mengalami krisis ekologi. Pohon-pohon ditebang, lahan persawahan dijadikan pabrik dan perumahan. Hutan tersisa sebagai fungsi penunjang yang marjinal: resapan air dan pemasok udara segar. Bertujuan untuk menghindari banjir, ketersediaan taman kota, dan sedikit pepohonan rindang di kanan kiri jalan dengan cericit burung yang menentramkan hati—sebagai cerminan kota peduli lingkungan.

Data Badan Pusat Statistik dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Indonesia, mulai 2015 hingga 2020 luas hutan kita berkurang 2,1 juta hektar. Ini tentu masih banyak yang belum terdata. Luas hutan di Indonesia 95,6 juta hektar, sedangkan di Jawa 12,9 juta hektar saja.

Alam, termasuk juga lingkungan, menurut para filsuf Yunani klasik seperti Aristoteles dan Plato adalah produk realitas non-material, ruh, dan spiritual. Alam adalah bagian tak terpisah dari jiwa yang menurut mereka merupakan esensi fundamental yang mendasari dan mengawali kosmos atau alam semesta. Jiwa itulah prinsip dasar segala kehidupan.

Bangunan kosmos yang dipercaya tersusun dari jiwa itu, diperkuat lagi dengan pandangan teologis bahwa alam semesta ini sebagai sesuatu yang dihadirkan dari yang non-fisik. Bahwa, dasar atau asal usul alam semesta ini disebabkan bukan oleh sesuatu yang fisik, melainkan oleh substansi metafisik. Para filsuf Islam seperti Al-Kindi, Ibnu Rusyd, dan Ibnu Sina yang banyak dipengaruhi pemikiran Aristoteles dan Plato ikut membenarkan bahwa keberadaan alam disebabkan oleh realitas metafisik. Alam semesta tidak bersifat kekal. Allah adalah penggerak pertama segala sesuatu di dalam alam.

Krisis ekologi hari ini terwujud dari ketidakpedulian manusia pada kualitas nilai-nilai spiritual, etika, dan estetika. Ernest Haeckel, salah seorang pemikir pertama yang memperkenalkan ekologi, menyebut gejala tersebut sebagai fasisme ekologis: manusia yang hanya mencari nilai ekonomis-material saja untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Pandangan tersebut berdampak pada alam yang dianggapnya sebagai objek material atau realitas material saja. Pandangan ini juga menganggap realitas sejati atau kenyataan berasal dari materi. Dampaknya, manusia kini bersikap mekanistis dan pragmatis.
Kebanyakan manusia hari ini, disadari atau tidak, telah menggunakan prinsip positivisme logis: memisahkan pengetahuan dari nilai. Logika lebih digunakan ketimbang etika dan estetika. Fisik lebih penting dari non-fisik, spiritual, dan ruh.

Disiplin pengetahuan seperti yang saya sebutkan itu menjadikan manusia sekuat tenaga berusaha menyejahterakan dirinya di satu sisi, tetapi di sisi lain melakukan tindakan eksploitatif atas alam dan menjadikan alam sebagai objek. Manusia menganggap alam sebagai sesuatu yang hanya diam lalu mereduksi keutuhan alam sebagai bagian dari realitas linier manusia dan jagat raya.

Mengandaikan Ekologi Spiritual Jawa-Islam

Islam sebagai agama mayoritas dan secara otomatis membentuk nilai-nilai kebudayaan Jawa telah mengajarkan manusia untuk hidup berdampingan dengan alam. Namun, kebudayaan Jawa yang kita kenal hari ini sebenarnya adalah konstruksi kebudayaan kolonialisme beserta seluruh aspek pengetahuan, sistem, dan perubahan-perubahannya.

Sejarawan University of Oxford, Peter Carey, Jawa dan Islam (Jawa-Islam) sebagai identitas yang menyatu pertama kali tersebar luas secara politis sejak Pangeran Diponegoro diangkat sebagai Sultan Abdul Hamid Erucokro (Ratu Adil) pada awal perang Jawa di Gua Sriti (Kulon Progo) dan berlanjut Perang Jawa (1825-1830). Sedangkan secara kultural, Jawa Islam sudah terjalin sejak dakwah Walisanga pada abad 14-16.

Penyebaran tersebut kemudian terputus ketika Perang Jawa usai, dan sang Pangeran diasingkan Belanda. Di masa-masa ini Islam di Jawa secara ajaran dan tradisi terkoyak oleh aturan-aturan pemerintah kolonial. Sehingga yang bergerak di masa itu hanya sisa-sisa murid sang Pangeran yang secara diam-diam membawa misi harmonisasi Islam beserta nilai-nilai ekologis di dalamnya. Tak boleh lupa bahwa kedatangan Belanda ke Jawa sesungguhnya adalah untuk menguasai alam, manusianya, dan kebudayaannya.

Di tengah bayang-bayang kolonialisme itulah Jawa-Islam kemudian tidak bisa secara padu dipertahankan. Keadaan tersebut, perlu diingat, memiliki pengaruh cukup besar dalam pemahaman orang-orang Jawa tentang pendefinisiannya terhadap Tuhan, alam, dan manusia. Superioritas yang bersifat menindas ala kolonialisme telah membentuk kebudayaan baru dan menyisakan riuh rendah lelaku kebudayaan hari ini yang tarik-ulur. Masyarakat Jawa hari ini menjadi sangat susah untuk mengetahui identitas lama mereka—karena terkoyak Politik Etis di masa lalu, dan paradigma mekanis di masa kini—dan tidak dapat ditautkan secara koheren.

Di sisi lain, masyarakat Jawa Islam hari ini masih menjumpai tradisi dan produk-produk kebudayaan di masa lalu. Sebut saja sedekah bumi, sedekah laut, ritual banyu panguripan, kenduri, selametan dan lainnya, dan seterusnya, yang masih erat kaitan dengan alam.
Masyarakat Jawa-Islam menjadikan alam sebagai sarana untuk menghadap dan mengantarkan mereka kepada Sang Pencipta. Bumi dipandang sebagai pengingat bahwa orientasi hidup manusia tidak boleh hanya sekadar kesegaran dan kebugaran ragawi, tetapi juga kepekaan rohani. Kepekaan rohani hanya muncul ketika manusia menjauhi sikap adigang, adigung, dan adiguna (sok kuasa) atas alam. Inilah sikap reflektif sebagai bagian tazkiyatun nafs.

Bila kita melihat jauh sebelum Politik Etis, masyarakat Jawa-Islam pernah memiliki “kontrak dengan alam”. Bermula dari kegelisahan yang dialami oleh Danang Sutawijaya atau Panembahan Senapati tentang eksistensi diri dan amanat politik untuk menjadi sultan di kerajaan Mataram Islam yang diwariskan dari ayahnya, Ki Ageng Pamanahan atau Ki Ageng Mataram.

Kegelisahan itu terjawab ketika Ki Juru Martani menasihatinya untuk berjalan ke Laut Selatan sedangkan beliau ke gunung Merapi. Panembahan Senapati di Laut Selatan bertemu dengan Ratu Kidul dan Sunan Kalijaga. M. Jadul Maula memaknai perjumpaan dengan Ratu Kidul dan perginya Ki Juru Martani ke gunung Merapi secara personifikatif. Ia menyebutnya sebagai perkawinan (perjanjian suci) manusia—sebagai khalifah fil ard—dengan alam. Sedangkan perjumpaan dengan Sunan Kalijaga adalah pemahaman syariat menuju tarikat, hakikat, dan makrifat kepada Allah.

Adagium Jawa telah mengingatkan manusia untuk tidak rumangsa bisa, nanging ora bisa rumangsa: sifat merasa bisa, merasa tahu, dan merasa mampu tetapi tindakannya tidak bertenggang rasa. Tidak mau mawas diri, alias sok kuat. Bagi budaya Jawa-Islam, aspek cipta, rasa, dan karsa sangat dianggap penting. Faktor rasio seringkali dikalahkan oleh pe-rasa-an. Itulah mengapa orang Jawa lebih sering menggunakan istilah “saya rasa” daripada “saya pikir” ketika menanggapi pemikiran atau perbuatan tertentu. Dengan begitulah ekologi spiritual ala Jawa-Islam yang dulu pernah ada, masih mungkin kita andaikan hari ini. [NH]

Penulis:

Muhammad Faizul Kamal, mahasiswa filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tertarik pada sufisme, musik, filsafat, sepak bola, dan sastra. Bisa disapa melalui Instagram @m_faizulkamal.

Sumber Berita: islami.co

Portal Berita Islam – Portal Berita Islam Terpercaya

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Tags: alaEkologiEkologisFasismeJawaIslamMengandaikanSpiritualTengah

ADVERTISEMENT
Previous Post

Gemar Membaca Al-Qur’an

Next Post

Heboh Ceramah Pendakwah Cecar Aksi Pembuatan Konten di Masjidil Haram, Apakah Bisa Berhenti?

Berita Terkait

Yudas Iskariot dan Misteri Penyaliban Nabi Isa  – Portal Islam
Khazanah Islam

Yudas Iskariot dan Misteri Penyaliban Nabi Isa – Portal Islam

by Panji Islam
Rabu. 8 April 2026 10:25
Taubat Waria: Kedudukan dalam Perspektif Islam  – Portal Islam
Khazanah Islam

Taubat Waria: Kedudukan dalam Perspektif Islam – Portal Islam

by Panji Islam
Rabu. 8 April 2026 10:18
Waria dalam Perspektif Agama: Hukum dan Pandangan  – Portal Islam
Khazanah Islam

Waria dalam Perspektif Agama: Hukum dan Pandangan – Portal Islam

by Panji Islam
Rabu. 8 April 2026 10:14
Panduan Syariat tentang Identitas dan Peran Gender  – Portal Islam
Khazanah Islam

Panduan Syariat tentang Identitas dan Peran Gender – Portal Islam

by Panji Islam
Rabu. 8 April 2026 10:09
Tinjauan Fiqih tentang Tasyabbuh dan Identitas Gender  – Portal Islam
Khazanah Islam

Tinjauan Fiqih tentang Tasyabbuh dan Identitas Gender – Portal Islam

by Panji Islam
Rabu. 8 April 2026 10:04
25 Hadis tentang Dahsyatnya Fitnah Akhir Zaman  – Portal Islam
Khazanah Islam

25 Hadis tentang Dahsyatnya Fitnah Akhir Zaman – Portal Islam

by Panji Islam
Rabu. 8 April 2026 10:00
Doa Penting Hadapi Fitnah Akhir Zaman – Portal Islam
Khazanah Islam

Doa Penting Hadapi Fitnah Akhir Zaman – Portal Islam

by Panji Islam
Rabu. 8 April 2026 09:56
Next Post
Heboh Ceramah Pendakwah Cecar Aksi Pembuatan Konten di Masjidil Haram, Apakah Bisa Berhenti?

Heboh Ceramah Pendakwah Cecar Aksi Pembuatan Konten di Masjidil Haram, Apakah Bisa Berhenti?

Jejak Karomah Abah Anom, Mursyid Asal Sunda dan Kisah Spiritual Cing Abdel  

Jejak Karomah Abah Anom, Mursyid Asal Sunda dan Kisah Spiritual Cing Abdel  

Abu Bakar bin Thufail, Filosof Muslim yang Mempromosikan Ibnu Rusyd

Abu Bakar bin Thufail, Filosof Muslim yang Mempromosikan Ibnu Rusyd

Discussion about this post

Berita Populer

  • Surat Ad-Dhuha Latin, Arab dan Artinya Beserta Keutamaannya

    Surat Ad-Dhuha Latin, Arab dan Artinya Beserta Keutamaannya

    2483 shares
    Share 993 Tweet 621
  • Bacaan Ayat 1000 Dinar Lengkap dengan Bahasa Arab, Latin dan Waktu Terbaik Membacanya

    1601 shares
    Share 640 Tweet 400
  • Macam Tanda Waqaf dalam Al-Qur’an Serta Cara Membacanya

    1510 shares
    Share 604 Tweet 378
  • Cara Membaca Tajwid Surat An-Nas Beserta Penjelasannya

    1251 shares
    Share 500 Tweet 313
  • Hukum Tajwid Surat Al Baqarah Ayat 155, Beserta Penjelasan dan Cara Membaca

    1143 shares
    Share 457 Tweet 286

Berita Terbaru

Sidik Jari Genetika dan Proyek Genetika Quraisy – Polemik Nasab Habib
Nasab Habib

Sidik Jari Genetika dan Proyek Genetika Quraisy – Polemik Nasab Habib

11 jam ago
Dr. Saleh Basyari: Tesis Kiai Imad Persempit Ruang Simtuddurar, Taufiq Assegaf, Majlis Salawat Syekh bin Abdul Qadir dan Lutfi b – Polemik Nasab Habib
Nasab Habib

DR. Saleh Basyari: Bung Karno Nasionalisasi Aset Ekonomi, Kiai Imad Nasionalisasi Sosial-Keagamaan – Polemik Nasab Habib

12 jam ago
Sejalan Dengan Anti-Nekolim Presiden Prabowo, Gus Rocky Usulkan Kiai Imad Menjadi Staf Khusus Presiden Bidang Sejarah Islam – Polemik Nasab Habib
Nasab Habib

Kandidat Doktor dari Inggris: Kiai Imad dan Presiden Prabowo Seperti Einstein dan Roosevelt – Polemik Nasab Habib

13 jam ago
Dr. Saleh Basyari: Tesis Kiai Imad Persempit Ruang Simtuddurar, Taufiq Assegaf, Majlis Salawat Syekh bin Abdul Qadir dan Lutfi b – Polemik Nasab Habib
Nasab Habib

Dr. Saleh Basyari: Tesis Kiai Imad Persempit Ruang Simtuddurar, Taufiq Assegaf, Majlis Salawat Syekh bin Abdul Qadir dan Lutfi b – Polemik Nasab Habib

14 jam ago
ADVERTISEMENT
Panji Islam Portal Berita Islam Terpercaya di Indonesia | Portal Islam | Situs Islam

© 2026 Panji Islam - by RWD

Portal Berita Islam

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Terms & Conditions
  • Cookies
  • Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Donasi

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita Islam
    • Cover Story
    • Islam Indonesia
    • Islam Internasional
    • Palestina Terkini
    • Umroh dan Haji
    • Politik
  • Kajian
    • Gaya Hidup Muslim
    • Hiburan Islami
    • Jendela Keluarga
    • Oase Iman
    • Hukum Islam
  • Khazanah Islam
    • Khazanah Ramadhan
    • Khazanah Ponpes
    • Sejarah Islam
    • Sejarah Islam Nusantara
    • Peristiwa
    • Video
  • Kisah dan Hikmah
Al Qur'an Online
-

© 2026 Panji Islam - by RWD