• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Terms & Conditions
  • Cookies
  • Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Donasi
YOUTUBE
Panji Islam Portal Berita Islam Terpercaya di Indonesia | Portal Islam | Situs Islam
No Result
View All Result
  • Login
Al Qur'an Online
Senin, 13 Juli 2026
  • Home
  • Berita IslamNEW
    • Cover Story
    • Islam Indonesia
    • Islam Internasional
    • Palestina Terkini
    • Umroh dan Haji
    • Politik
  • Kajian
    • Gaya Hidup Muslim
    • Hiburan Islami
    • Jendela Keluarga
    • Oase Iman
    • Hukum Islam
  • Khazanah Islam
    • Khazanah Ramadhan
    • Khazanah Ponpes
    • Sejarah Islam
    • Sejarah Islam Nusantara
    • Peristiwa
    • Video
  • Kisah dan Hikmah
  • Home
  • Berita IslamNEW
    • Cover Story
    • Islam Indonesia
    • Islam Internasional
    • Palestina Terkini
    • Umroh dan Haji
    • Politik
  • Kajian
    • Gaya Hidup Muslim
    • Hiburan Islami
    • Jendela Keluarga
    • Oase Iman
    • Hukum Islam
  • Khazanah Islam
    • Khazanah Ramadhan
    • Khazanah Ponpes
    • Sejarah Islam
    • Sejarah Islam Nusantara
    • Peristiwa
    • Video
  • Kisah dan Hikmah
Panji Islam Portal Berita Islam Terpercaya di Indonesia | Portal Islam | Situs Islam
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Nasab Habib

NU Bukan Baalwi, Muhammadiyah Bukan Wahabi: Untuk KH. Imaduddin Utsman Al Bantani – Polemik Nasab Habib

Minggu. 12 Juli 2026 19:27
Reading Time: 10 mins read
428
A A
0
Antara Taipan Yahudi George Soros dan Rumail Abbas – Polemik Nasab Habib

#image_title

829
SHARES
2.3k
VIEWS
FacebookWhatsApp
ADVERTISEMENT

PANJI ISLAM – NU Bukan Baalwi, Muhammadiyah Bukan Wahabi: Untuk KH. Imaduddin Utsman Al Bantani

Penulis: Rifky Zulkarnaen J. Baswara

Pada podcast berjudul [LIVE] EP#375 | MUKTAMAR NU KE-35: ISLAM NUSANTARA MENANG ATAU HADRAMAUTISME BERTAHAN❓ (28/06/2026) KH. Imaduddin Utsman Al Bantani menerangkan sejarah tiga arus pemahaman yang kemudian melembagakan diri: “Orang-orang pesantren bikin NU, Orang-orang Wahabi kemudian membikin Muhammadiyah dan orang-orang Baalwi kemudian membikin Rabithah Alawiyah. Muhammadiyah berdiri tidak membawa-bawa orang pesantren. NU berdiri tidak membawa orang-orang Wahabi dan orang-orang Baalwi. Rabithah Alawiyah berdiri tidak membawa orang-orang Wahabi juga tidak membawa orang-orang Nahdatul Ulama, orang-orang ajaran pribumisasi Islam—masing-masing ini berjalan.”

Penulis hendak mengelaborasi dan memperakurat ungkapan Kyai Imad itu.

ADVERTISEMENT

Mari Mendasar Dulu

Baca Lainnya

Elegi Garis Nasab: Antara yang Hakiki dan yang Imitasi (Y DNA Nabi Ibrahim Versi Rumail Abbas) – Polemik Nasab Habib

Daftar Reportasi Media Tentang Pendiskreditan Habaib Ba’alwi Terhadap NU dan Kiai-Kiai NU – Polemik Nasab Habib

Emha Ainun Najib: Nasab dan Harga Diri Bangsa dan Kesadaran Bernegara – Polemik Nasab Habib

Penjabaran Psikologis: Festival Su’ul Khotimah Klan Habib Baalwi dan Muhibbinnya – Polemik Nasab Habib

Supaya tidak ada salah paham di antara kita yang barangkali bisa berujung tuduhan kepada penulis dengan macam-macam asumsi, mari kita mendasar dulu.

Pertama, penulis bukan kader Muhammadiyah dan tidak punya KTA Muhammadiyah—meski disuruh bikin KTA karena keluarga saya ada di pengurus pusat, saya tidak mau. Penulis juga bukan kader formil Nahdlatul Ulama karena tidak punya KTA dan tidak ikut program on boarding kaderisasi NU—meski saya orang Madura Negeri di mana NU-nya kental sekali sampai-sampai dikatakan pithiknya kalau disembelih darahnya warna hijau, sebuah anekdot untuk menunjukkan fanatisme orang Madura ke NU bahwa di Madura tak hanya manusianya yang NU bahkan sampai ayamnya pun NU. Namun demikian, saya tidak cukup berani mengatakan saya NU. Kedua orang tua saya lulusan pesantren tradisional yang sudah ada jauh sebelum NU ada (yang kemudian pesantren-pesantren tua itu mengasosiasikan diri dengan NU—ingat, NU itu baru ada 1926), kakek saya jebolan Mekkah. Kakak saya alumni Gontor di mana beliau peduli dengan NU, salah satu adik sepupu saya di Al Azhar, dan komposisi majemuk lainnya. Sementara saya keluar dari sistem.

ADVERTISEMENT

Penulis tidak berani mengaku Muhammadiyah juga tidak berani mengaku NU dengan alasan pribadi. Benturan humor yang dialami penulis sama dengan yang dialami Mbah Nun: oleh orang Muhammadiyah dituduh NU, oleh orang NU dituduh Muhammadiyah. Jadi seolah-olah di dunia ini hanya dua: NU dan Muhammadiyah. Menghadapi tatapan mata seperti itu saya bersikap humoris saja: saat ketemu orang NU saya katakan saya Muhammadiyah, saat ketemu orang Muhammadiyah saya katakan saya NU. Hampir selalu kedua pihak tertawa saat saya mengatakan itu dan saya bergembira memperoleh respon itu. Orang banyak lupa hal mendasar bahwa Muhammadiyah dan NU itu ‘cuma’ ormas, ‘cuma’ organisasi. Keduanya pun baru ada 100 tahun kemarin, Muhammadiyah baru ada tahun 1912 dan NU baru ada 1926. Orang Islam hari ini yang meneruskan ruh orang Islam pra-1912 yang tidak ikut NU dan tidak ikut Muhammadiyah terus kamu anggap apa.

Umpamanya Keraton Jogja, itu NU atau Muhammadiyah? Anda kan tidak bisa memasukkannya ke dalam kotak NU atau kotak Muhammadiyah. Keraton Jogja ya Keraton Jogja dengan karakteristik Islamnya sendiri yang eksistensinya jauh lebih tua daripada Muhammadiyah dan NU. Begitu pula Kesultanan Banten, Cirebon, dan Aceh kan jauh lebih tua daripada NU dan Muhammadiyah. Lalu di tengah masyarakat kok seolah-olah muslim Nusantara kemudian menyempit kalau ndak Muhammadiyah berarti ya NU padahal keduanya ‘hanya’ ormas.

Terjadi lebih ekstrim lagi, seolah-olah Walisongo adalah NU, Syaikh Nawawi Al Bantani adalah NU, Mbah Kholil Bangkalan adalah NU. Lho, sejak kapan Walisongo, Syaikh Nawawi Al Bantani, Mbah Kholil Bangkalan, daftar jadi kader NU? Tidak bisa kita mengatakan Walisongo adalah NU, Syaikh Nawawi Al Bantani adalah NU, Mbah Kholil Bangkalan itu NU, sebab faktanya semuanya meninggal sebelum NU ada (berdiri). Kelucuan berpikir anakronistik itu kira-kira sama dengan kasus orang Yahudi mengatakan Nabi Ibrahim as adalah Yahudi. Al Quran menjawab itu: “Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus, muslim (orang yang tunduk patuh kepada Allah Swt) dan dia tidaklah termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran ayat 67). Karena tidak ada Yahudi dan Nasrani kecuali setelahnya. Tahlilan seolah-olah yang bikin adalah NU, selametan seolah-olah baru ada setelah adanya NU, muludan seolah-olah NU yang menginisiasi, ziarah kubur dan tirakat serta macam-macam lainnya seolah-olah baru ada setelah NU ada. Lho, bagaimana kok begitu. Kalau seperti itu berarti Sunan Drajat belajar ke NU? Eyang Sunan Gunung Jati ngajinya ke NU? Mbah Ampel nyantri ke NU? Syaikh Abdul Qodir Jailani berbaiat ke NU? Sayid Barzanji lulusan AKN-NU? Itu paradigma mentolo. Kualat lho.

Mari kita dudukkan perkaranya. Bahwa yang tepat adalah NU meneruskan spirit dan ajaran Walisongo dan leluhur-leluhur sebelum NU berdiri. Hal ini pun diadress oleh Ketum PBNU, Gus Yahya, bahwa NU hanya memberi bingkai formal: “Dalam konteks itu, NU disebut bukan pencipta budaya, melainkan penjaga. Ia hanya memberi “bingkai formal” terhadap praktik keagamaan yang telah lama hidup di Nusantara—tradisi Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang berakulturasi dengan budaya lokal di berbagai wilayah, dari Sumatra hingga Jawa dan kawasan timur Indonesia.” NU itu, katakan saja, salah satu kader penerus spirit, nilai, ajaran, dan budaya leluhur muslim di Nusantara—mohon jangan dihilangkan kader-kader muslim Nusantara lain di luar NU jumlahnya banyak baik yang mau berorganisasi maupun tidak berorganisasi.

Dengan penjelasan ini, saya memohon sekali, jangan kemudian mencurigai lantas menuding saya anti-NU atau anti-Muhammadiyah atau anti ormas Islam. Jangan pula saya dituding khawarij, Wahabi, HTI, atau lainnya sebagaimana tudingan KH. Miftahul Akhyar—karena itu pasti salah, bermuatan fitnah dan oleh karenanya pasti kualat. PASTI! Saya tidak sedang sesumbar tetapi dengan penuh nada kerendahhatian kalau-kalau terpaksa harus membuktikan maka dengan senang hati saya ajak Anda bersama saya melakukan tirakat macam apa, wiridan macam apa, jumeneng, ziarah kubur, istiqomah macam apa—sebutkan saja, mumpung saya masih muda. Saya manusia muslim Nusantara pra-NU dan pra-Muhammadiyah sehingga Anda ajak saya ke NU ayo, Anda ajak saya ke Muhammadiyah ayo, atau apa pun lainnya ayo-ayo saja yang penting saling baik, hangat dan bermanfaat dan sepanjang saya mampu. Lha, wong semuanya itu cuma: ambang batas minimum, gradasi antara minimum-maksimum, dan ambang batas maksimum. Mau minimum ayo, mau maksimum ayo, apalagi cuma di wilayah gradasi. Kata Gus Dur, gitu aja kok repot. Itu kan urusan gampang saja bagi yang ngerti sistemnya.

Ada lagi tudingan yang lucu ke penulis bahwa saya adalah anak Muhammadiyah yang disusupkan ke NU untuk memuhammadiyahkan NU. Keluarga saya terpingkal-pingkal kala saya menceritakannya karena mereka tahu betul itu tidak mungkin. Itu fitnah dan di lain sisi merupakan sanjungan terselubung bagi saya karena saya dipersepsikan memiliki power yang luarbiasa. Allahuakbar. Herannya kenapa tidak sebaliknya menuduh saya orang NU yang disusupkan ke Muhammadiyah untuk meng-NU kan Muhammadiyah.

Penulis tidak memiliki kepentingan apapun dalam tulisan ini. Saya hanya berupaya mendudukkan perkaranya as it is. Saya pernah satu percakapan dengan Kiai Imad, Kiai Ubaidillah Tamam Munji, KRT. KH. Ikhya Hadinegoro, Gus Fuad Plered, Tubagus Moggi, Gus Aziz, Gus Ahong—yang semuanya itu kader NU—Dr. Sugeng Sugiharto dan Dr. Menachem Ali. Saya katakan saya mencintai NU dan Muhammadiyah sebagai pembawa nilai-nilai. Ormas bisa hancur, hilang—silakan-silakan saja—tetapi sepanjang mentalitas pribumi cemerlang dan nilai-nilai itu eksis di jiwa pribumi maka akan selalu muncul lagi NU-NU baru Muhammadiyah-Muhammadiyah baru. Lagi lagi dan lagi. Kerajaan-kerajaan boleh hancur, silih muncul tenggelam, tetapi selama manusia Nusantara mentalnya cemerlang, jati dirinya berkibar-kibar dari akar yang tangguh, akan selalu muncul kerajaan-kerajaan baru. Akan selalu tumbuh pohon-pohon besar lagi lagi dan lagi di tanah jiwa-jiwa Nusantara. Urusan saya adalah dengan mentalitas Bangsa Nusantara. Dan saya sekedar mendasar saja berbasis pada nilai lan (dan) mung golek dulur walau juga saya diajarkan siap terjadi sebaliknya.

Apakah Muhammadiyah Wahabi?

Kiai Imad mengatakan bahwa “orang-orang Wahabi kemudian membikin Muhammadiyah”. Statement itu tidak akurat. Muhammadiyah bukan Wahabi. Muhammadiyah tidak punya tautan dengan Wahabi. Sebagian kecil umat sering mengkontruksi gerakan dan paham keagamaan Muhammadiyah dengan aliran Islam seperti Wahabi yang identik keras dan ancaman. Bahkan sekarang karakternya sering kali muncul. Padahal Muhammadiyah sesungguhnya tidak punya tautan terhadap Wahabi sebagaimana Kiai Hasyim Asy’ari, pada Wahabiah. Buku-buku dan kitab-kitab yang dibaca Kiai Ahmad Dahlan dalam daftarnya menurut Kiai Hadjid, salah seorang murid dan paling dekat dengan Kiai Dahlan menyebutkan tidak ada daftar Kitabut Tauhid karya Muhammad bin ‘Abdul Wahhab. Justru yang paling kuat dari Kiai Dahlan adalah Risalah At-Tauhid karya Muhammad Abduh dan Kitab Al-Iman karya Ibnu Taimiyah yang perspektifnya sangat mendalam dan luas. Hal tersebut ditegaskan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir dalam acara Seminar Nasional memperingati 1 tahun wafatnya KH. Salahuddin Wahid yang diselenggarakan oleh Tebuireng Initiatives dengan tema ‘Memadukan Keberagaman, Bangsa Termajukan’ pada Sabtu 6 Februari 2021. “Kiai Dahlan seperti juga Kiai Hasyim Asy’ari biarpun lama bermukim di Makkah tidak terpengaruh, ya kira-kira seperti ikan di laut yang tidak terpengaruh menjadi asin,” kata Haedar. Ketika di Indonesia, bahkan Kiai Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di pusat kebudayan Jawa yaitu Yogyakarta yang sinkretis. Dan Kiai Dahlan tetap sebagai Penghulu Kasultanan Yogyakarta saat menjadi Presiden Muhammadiyah, sehingga dalam diri Muhammadiyah terdapat kekuatan budaya walaupun ekspresinya berbeda.

“Nah, konsep tadjid Muhammadiyah yang disebut sebagai puritan, purifikasi punya dimensi justru kuat pada ishlah atau karakter reformis. Inilah yang disebut Charles Kurzman menilai Kiai Dahlan sebagai Islam liberal karena keislaman dan reformisnya, ” kata Haedar. Untuk itulah, Haedar meminta umat untuk memahami pentingnya perspektif sosiologi agar tidak mudah mengkaitkan Muhammadiyah dengan Wahabi, rujukan kitab sampai pada adopsi pikiran tidak bersinggungan. “Tetapi entah dalam pusaran konflik apa, lalu hal ini selalu di reproduksi,” tutur Haedar.

Kiai Imad, saya menyayangi Anda, menghormati Anda, track record hubungan kita berdua sepanjang hampir empat tahun ini tanpa jeda membuktikan itu. Kita sama-sama menanggung resiko dipersekusi dan dibunuh oleh Klan Habib Baalwi pada dan sejak masa-masa awal polemik nasab meski paparan kepada saya tentu tak seberat yang dialami Kiai Imad sebagai lokomotif. Dalam hal ini, saya harus menyampaikan bahwa Muhammadiyah bukan Wahabi. Keluarga saya yang tokoh Muhammadiyah bercerita langsung ke saya bahwa beliau ceramah (mengisi pengajian) lalu membaca shalawat dengan redaksi ‘sayidina’. Tak ayal, kader-kader muda Muhammadiyah banyak yang protes dan bersuara sumbang di luar sana: shalawat kok ditambahi sayidina—bid’ah! Keluarga saya itu hanya diam saja tak menanggapi suara miring dari kader-kader organisasinya sendiri. “Saya diemin aja. Mereka gak tahu kalau Mbah Dahlan baca shalawatnya pakai sayidina. Saya diceritai langsung dari sesepuh Masjid Kauman bahwa beliau (sesepuh Masjid Kauman) mengatakan roaitu—aku melihat—Kiai Dahlan baca shalawatnya pakai sayidina,” jelasnya, “Roaitu itu derajatnya lebih tinggi daripada sami’tu atau haddassana.” “Kalau roaitu menyaksikan langsung ya?” Saya memparafrase. “Iya. Tapi saya gak bisa juga menyalahkan (sikap) mereka karena gak bisa kita menuntut setiap orang punya literasi mendalam karena keterbatasan waktu, sumber, dan lain sebagainya.” Kesalahpahaman kepada Muhammadiyah mafhum terjadi bahkan di internalnya sendiri pada lapisan tertentu akan tetapi mari kita bersama-sama menjernihkan segala yang terpersepsikan rancu dan bersama-sama menghentikannya.

Bahwa Muhammadiyah pada bagian tertentu organisasinya serta jamaahnya dan fase waktu tertentu pernah kesurupan Wahabi (disebut Musa, Muhammadiyah Salafi), mungkin iya—pernah kesurupan HTI-PKS, iya memang. Tetapi mereka dengan cepat menyadari dan tegas bersih-bersih. Penyusupan dan kesurupan yang demikian terjadi di berbagai institusi tak terkecuali, atau lebih-lebih, di NU sebagaimana yang kita saksikan dan alami hari ini NU kesurupan dan kesusupan Sekte Habib Baalwi sehingga pada beberapa fase waktu ajaran NU dipersepsikan sama dengan ajaran Habib Baalwi, melawan Habib Baalwi sama dengan melawan NU. Outsider NU juga dapat dipahami posisi perspektifnya apabila salah paham memandang NU penuh TBC karena NU tercampur dengan Sekte Baalwi bahkan hampir menjadi Sekte Baalwi itu sendiri andai tidak tesis Kyai Imad dan perjuangan teman-teman (kita semua). Padahal, aslinya identitas dan ajaran NU tidak sama dengan dan sama sekali bukan Baalwi. Tugas kita bersamalah menjernihkan tentangnya—kalau mau dan kalau bisa.

Kalau ada orang memiliki rasa benci ke Muhammadiyah, boleh saja. Tetapi ada baiknya jangan terlalu benci. Sisakan ruang hati guna berdialog dan mendengar barangkali ada yang belum kita mengerti betul-betul secara detail yang bisa mengubah paradigma yang kita pegang erat selama ini. Sebagaimana ketika Klan Habib Baalwi diteliti betul ternyata bukan dzuriyah Nabi, dikotomis total dengan keyakinan mayoritas orang NU selama ini. Dulu Anda yakini betul habib-habib itu dzuriyah Nabi sampai seperti disembah-sembah layaknya Dewa, setelah diteliti betul ternyata keturunan Yuya dukun Firaun dan MUTLAK MUSTAHIL KETURUNAN NABI Saw. Suatu waktu saya guyonin Gus Fuad, “Andai kita ketemu sebelum polemik nasab barangkali kita akan berantem. Jenengan akan menuduh saya sesat dan tidak mendapat hidayah, anak muda ilmunya belum nyampe, karena tidak percaya habib sebagai dzuriyah Nabi.” Di dunia ini hampir semua dogma saya tolak mentah-mentah sampai saya membuktikan kebenarannya sendiri. “Ndak, ndak, saya itu ilmiah, harus terverifikasi secara ilmiah—sains, kalau sudah terbukti atau alasannya dapat diterima, pasti saya terima kebenaran itu,” dan kami berdua tertawa terkekeh-kekeh.

Begitulah. Tentang Muhammadiyah, mari berdialog—sering kali jarak antara dinginnya kesalahpahaman dan hangatnya persahabatan sekedar berjarak tempuh berdurasi tak lebih dari sebatang rokok dan satu cangkir kopi. Apakah kita bisa menunda terlebih dahulu keyakinan bahwa Muhammadiyah adalah Wahabi lalu meneliti dengan sangat detail apa betul Muhammadiyah itu Wahabi? Tentang itu saya sudah menghaturkan jawabannya dan silakan diteliti jika tak percaya. Lanjutan daripada itu, mengapa bisa Muhammadiyah sampai diidentikkan dengan Wahabi dengan terus-menerus oleh orang NU? Dari mana asalnya keyakinan itu? Sejak kapan itu terjadi? Itu pertanyaan. Orang NU pasti bisa memperoleh jawabannya karena nasab Baalwi yang ditumpuk-tumpuk kepalsuan berlapis-lapis saja bisa dipreteli apalagi sekedar urusan apa betul Muhammadiyah itu Wahabi.

Bang Nasab: Yang Menyebar Fitnah Muhammadiyah Wahabi adalah Baalwi

Bang Nasab: “Saya bertemu dengan kiai-kiai besar. Kiai NU, kiai-kiai besar. Kiai Aqil Siradj juga saya pernah bertemu dengan beliau. Kami pernah membahas siapa orang pertama yang menuduh Muhammadiyah Wahabi itu. Ternyata orang pertama yang menuduh Muhammadiyah Wahabi adalah Baalawi. Makanya kiai-kiai NU terpaparlah virus-virus ini. Maka sebagian dari Kiai NU juga mengatakan Muhammadiyah terpapar Wahabi. Terjadilah perpecahan di saat itu. Kita di tahun berapa itu ya? Tahun 2023-2022 (mungkin maksudnya 2002-2003) kita pernah, orang Muhammadiyah enggak mau salat di masjid NU, orang NU enggak mau salat di Masjid Muhammadiyah. Siapa yang berbuat adu domba ini? Mau tahu siapa orangnya? Baalawi.

Dan kata Kiai Said, mengatakan ke saya itu, “Itu saya dengar itu ada Habib di saat itu mengatakan, “Kiai hati-hati dengan NU karena Muhammadiyah ini kebanyakan sudah memiliki pemikiran Wahabi.”” Kebayangkan enggak fitnahnya itu? Makanya di saat itu Muhammadiyah juga mau enggak mau, jaga jarak karena tidak mau ribut. Antisipasi. Ternyata yang membawa fitnah-fitnah ini, teman-teman, untuk mengadu domba Muhammadiyah dengan NU, ternyata yang paling gencar adalah Balawi. Saya baru tahu itu semuanya.

Saya pernah chat sama Ustaz Adi Hidayat saya pernah chat sama beliau saya bilang, “Ustaz, saya dapat A1 yang menuduh organisasi Muhammadiyah adalah Wahabi, adalah Baawi,” saya bilang, “Kalau Ustaz mau butuh bukti, saya akan datangkan kiai-kiai nanti.” Saya gituin.”

Arzaaa: “Sebenarnya kan begini, baik dari Nahdliyin atau Muhammadiyah kembali menapaktilasi jejak daripada pendahulunya, para pejuang. KH. Ahmad Dahlan adalah pejuang untuk kemerdekaan kita, yang bergerak lebih fokus beliaunya juga kepada pendidikan kan seperti itu. Di antara beliau-beliau tidak ada masalah. Kenapa akhir-akhir ini sering terjadi keretakan dalam komunikasi, bahwa yang mereka narasikan itu sudah tidak sesuai dengan apa-apa yang beliau-beliau dulu fatwakan. Ini menandakan bahwa generasi-generasi baik dari Muhammadiyah atau Nahdliyin ini sudah terjadi keterputusan napak tilas dan sejarah. Bahwa yang harus kita pertahankan begini, kemerdekaan ini, dua organisasi besar ini sangat berjasa untuk republik ini bukan Baalwi.”

Bang Nasab: “Makanya saya bilang, kami dari Muhammadiyah kami itu mengangkat kader-kader sekarang itu banyak sekali dari nonmuslim, dari Katolik, dari Kristen, kami jadikan Kokam, bukan jaga gereja lagi. Ketika mereka berhasil mengadu domba Muhammadiyah dengan NU, apa yang dilakukan oleh Baalawi? Mereka menghina Banser waktu itu kan. Mereka gara-gara Banser menjaga gereja. mereka hina Banser. Kalau kalian punya anak, jangan jadikan Banser. Jangan jadikan penjaga orang kafir dan yang lainnya. tapi mereka enggak berani usik orang Muhammadiyah. Kenapa mereka tidak berani usik? Coba kalian (maksudnya: Klan Habib Baalwi) mengatakan orang Muhammadiyah mengangkat Laskar-laskar Kristen jadikan Kokam, kalau kalian tidak diginikan (dihabisi). Karena prinsip kami di Muhammadiyah itu bukan melihat agamanya. Kami organisasi bagaimana menjaga kesatuan NKRI ini. Kamu mau dari agama apapun tetap kami jadikan dia kader Kokam agar menjaga kesatuan NKRI. Bukan jaga gereja, kami. Kami bukan jaga gereja, tapi kami angkat Kokam itu dari Kristen, dari Katolik, jadikan Kokam. Di NTT itu ratusan orang kami angkat kemarin. Saya termasuk orang yang datang ketika mereka dilantik itu, saya termasuk orang yang hadir melantik di NTT kemarin itu.”

Bang Nasab mengatakan kata Kiai Said begitu. Apakah itu betul? Saya tidak tahu. Mari kita teliti. Jika benar yang dikatakan oleh Bang Nasab maka semakin terang-benderang bahwa musuh NU adalah Klan Habib Baalwi—biang kerok segala kerusakan. Kurang bukti apa lagi.

Sumber Berita: rminubanten.or.id

PANJI ISLAM
Portal Berita Islam – Portal Berita Islam Terpercaya

Tags: BaAlwiBantaniBukanHabibImaduddinmuhammadiyahNasabNasab HabibPolemikuntukUtsmanwahabi

ADVERTISEMENT
Previous Post

Elegi Garis Nasab: Antara yang Hakiki dan yang Imitasi (Y DNA Nabi Ibrahim Versi Rumail Abbas) – Polemik Nasab Habib

Berita Terkait

Kitab Minhajunnassabin, NU dan Santri Bermasyrab Quburiyah – Polemik Nasab Habib
Nasab Habib

Elegi Garis Nasab: Antara yang Hakiki dan yang Imitasi (Y DNA Nabi Ibrahim Versi Rumail Abbas) – Polemik Nasab Habib

by
Senin. 6 Juli 2026 22:59
Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam? – Polemik Nasab Habib
Nasab Habib

Daftar Reportasi Media Tentang Pendiskreditan Habaib Ba’alwi Terhadap NU dan Kiai-Kiai NU – Polemik Nasab Habib

by
Senin. 29 Juni 2026 15:47
Emha Ainun Najib: Nasab dan Harga Diri Bangsa dan Kesadaran Bernegara – Polemik Nasab Habib
Nasab Habib

Emha Ainun Najib: Nasab dan Harga Diri Bangsa dan Kesadaran Bernegara – Polemik Nasab Habib

by
Senin. 29 Juni 2026 14:45
Antara Taipan Yahudi George Soros dan Rumail Abbas – Polemik Nasab Habib
Nasab Habib

Penjabaran Psikologis: Festival Su’ul Khotimah Klan Habib Baalwi dan Muhibbinnya – Polemik Nasab Habib

by
Rabu. 24 Juni 2026 23:37
Ilham Aidit, Anak D.N. Aidit, Tegaskan Ayahnya Keturunan Ba’alwi Yaman – Polemik Nasab Habib
Nasab Habib

Ilham Aidit, Anak D.N. Aidit, Tegaskan Ayahnya Keturunan Ba’alwi Yaman – Polemik Nasab Habib

by
Rabu. 24 Juni 2026 16:30
Membaca Lima Arus Kepentingan Eksternal dalam Muktamar NU 2026 – Polemik Nasab Habib
Nasab Habib

Membaca Lima Arus Kepentingan Eksternal dalam Muktamar NU 2026 – Polemik Nasab Habib

by
Rabu. 24 Juni 2026 06:17
Jahil Murakkab dan Runtuhnya Fabrikasi Nasab: Validasi Ilmiah KH. Imaduddin melalui Verifikasi Mustanad dan Genetik – Polemik Nasab Habib
Nasab Habib

Metode Eliminasi dan Epistemologi Nasab: Pengantar dan Apresiasi atas Gagasan Dr. Sugeng Sugiharto – Polemik Nasab Habib

by
Kamis. 18 Juni 2026 21:55

Discussion about this post

Berita Populer

  • Surat Ad-Dhuha Latin, Arab dan Artinya Beserta Keutamaannya

    Surat Ad-Dhuha Latin, Arab dan Artinya Beserta Keutamaannya

    2485 shares
    Share 994 Tweet 621
  • Bacaan Ayat 1000 Dinar Lengkap dengan Bahasa Arab, Latin dan Waktu Terbaik Membacanya

    1603 shares
    Share 641 Tweet 401
  • Macam Tanda Waqaf dalam Al-Qur’an Serta Cara Membacanya

    1513 shares
    Share 605 Tweet 378
  • Cara Membaca Tajwid Surat An-Nas Beserta Penjelasannya

    1256 shares
    Share 502 Tweet 314
  • Hukum Tajwid Surat Al Baqarah Ayat 155, Beserta Penjelasan dan Cara Membaca

    1144 shares
    Share 458 Tweet 286

Berita Terbaru

Antara Taipan Yahudi George Soros dan Rumail Abbas – Polemik Nasab Habib
Nasab Habib

NU Bukan Baalwi, Muhammadiyah Bukan Wahabi: Untuk KH. Imaduddin Utsman Al Bantani – Polemik Nasab Habib

8 jam ago
Kitab Minhajunnassabin, NU dan Santri Bermasyrab Quburiyah – Polemik Nasab Habib
Nasab Habib

Elegi Garis Nasab: Antara yang Hakiki dan yang Imitasi (Y DNA Nabi Ibrahim Versi Rumail Abbas) – Polemik Nasab Habib

6 hari ago
Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam? – Polemik Nasab Habib
Nasab Habib

Daftar Reportasi Media Tentang Pendiskreditan Habaib Ba’alwi Terhadap NU dan Kiai-Kiai NU – Polemik Nasab Habib

2 minggu ago
Emha Ainun Najib: Nasab dan Harga Diri Bangsa dan Kesadaran Bernegara – Polemik Nasab Habib
Nasab Habib

Emha Ainun Najib: Nasab dan Harga Diri Bangsa dan Kesadaran Bernegara – Polemik Nasab Habib

2 minggu ago
ADVERTISEMENT
Panji Islam Portal Berita Islam Terpercaya di Indonesia | Portal Islam | Situs Islam

© 2026 Panji Islam - by RWD

Portal Berita Islam

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Terms & Conditions
  • Cookies
  • Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Donasi

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita Islam
    • Cover Story
    • Islam Indonesia
    • Islam Internasional
    • Palestina Terkini
    • Umroh dan Haji
    • Politik
  • Kajian
    • Gaya Hidup Muslim
    • Hiburan Islami
    • Jendela Keluarga
    • Oase Iman
    • Hukum Islam
  • Khazanah Islam
    • Khazanah Ramadhan
    • Khazanah Ponpes
    • Sejarah Islam
    • Sejarah Islam Nusantara
    • Peristiwa
    • Video
  • Kisah dan Hikmah
Al Qur'an Online
-

© 2026 Panji Islam - by RWD