Mengenal Bendera Rasulullah ﷺ

  • Whatsapp

Panji Islam – Portal Berita Islam : Mengenal Bendera Rasulullah ﷺ

Bendera tauhid menjadi perbincangan hangat akhir akhir ini. Semenjak adanya kasus pembakaran bendera, bersahut-sahutan antara beberapa kubu tentang hakikat bendera Rasulullah ini. Ada yang berpegang teguh bahwa itu adalah bendera Rasulullah, bendera umat Islam dan siapapun boleh menggunakannya. Tapi ada yang ngotot bahwa itu adalah bendera HTI dan menjadikannya dalih pembenaran untuk pembakaran yang mereka lakukan.

Bacaan Lainnya

Aksi-aksi bela tauhid pun bergema di beberapa kota dan diikuti oleh ribuan umat Islam. Bukti bahwa di hatinya masih ada ghirah untuk memperjuangkan kehormatan kalimat Tauhid. Karena di dalam Sirah Nabawiyah, bendera ini diperjuangkan mati-matian oleh para shahabat di peperangan di masa itu. Dan bendera ini bertuliskan kalimat yang paling mulia serta simbol persatuan umat Islam.

Ini adalah momen yang tepat untuk memberikan penjelasan tentang bendera Rasulullah yang bernama Al-Liwa dan Ar-Rayya. Apa warnanya, apa bahan yang digunakan untuk membuat bendera ini di masa Rasul, tulisan apa yang termaktub di atasnya serta apa nama bendera Nabi ini berdasarkan dalil.

Mengenal Bendera Rasulullah

Terkait warna bendera Rasulullah, hadits yang paling masyhur dan sering disebut adalah hadits yang diriwayatkan sahabat Jabir dan Ibnu Abbas.

عن ابن عباس قال كانت راية رسول الله -صلى الله عليه وسلم- سوداء ولواؤه أبيض

“Dari Ibnu Abbas berkata bahwa Rayyah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam berwarna hitam dan liwa’nya berwarna putih” (HR Tirmidzi)

عن جابر أن النبى -صلى الله عليه وسلم- دخل مكة ولواؤه أبيض

“Dari Jabir bahwasannya Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam memasuki kota Makkah dan liwa’nya berwarna putih.” (HR Tirmidzi)

Dalam redaksi yang lain juga disebutkan dan diriwayatkan An-Nasa’i

عن جابر رضي الله عنه : أن النبي صلى الله عليه و سلم دخل مكة ولواؤه أبيض

“Dari Jabir Radhiallahu ‘anhu bahwasannya Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam memasuki kota Makkah dan liwa’nya berwarna putih.” (HR Tirmidzi)

Hadits shahih lainnya juga diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah, Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, Abu Hurairah, Al-Harits bin Hasan dan lainnya. Meskipun redaksinya agak berbeda, kesimpulan yang dapat diambil adalah warna Al-Liwa’ itu berwarna putih dan Ar-Rayyah berwarna hitam.

Ada hadits lainnya yang menyebutkan bahwa rayah Nabi itu berwarna kuning. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, Baihaqi dan Ibnu Adi.

حَدَّثَنَا عُقْبَةُ بْنُ مُكْرَمٍ حَدَّثَنَا سَلْمُ بْنُ قُتَيْبَةَ الشَّعِيرِىُّ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ سِمَاكٍ عَنْ رَجُلٍ مِنْ قَوْمِهِ عَنْ آخَرَ مِنْهُمْ قَالَ رَأَيْتُ رَايَةَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَفْرَاءَ.

Dari Uqbah bin Mukram berkata kepada kami Mukram, berkata pada kami Salm Ibn Qutaibah Asy-Syairi dari Syu’bah dari Simak dari sahabat yang tidak diketahui namanya, ia berkata, “Aku melihat bahwasanya bendera Nabi SAW berwarna kuning.” (HR. Abu Daud)

Namun, dalam sanad hadits ini ada perawi yang majhul (Tidak dikenal oleh ulama hadits) sebagaimana tertulis dalam Al-Badru Al-Munir karya Ibnu Al-Mulaqin.

Syaikh Abdullah bin Muhammad bi Sa’ad Al-Hujaili dalam Al-Alamu Nabawiy as-Syarif wa Tatbiqatihi al-Qadimatu wa al-Ma‘ashiratu menyebutkan bahwa seseorang yang melihat rayah Nabi setelah peperangan akan menyatakan berwarna kuning karena panji tersebut telah berdebu.

Ada hadits dhaif juga yang menyebutkan bahwa rayah Nabi berwarna merah. Hadits ini riwayat Thabrani didhaifkan oleh Al-Haitsami dan Ibnu Hajar karena ada rawi yang tidak dikenal.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقَدَ رَايَةً لِبَنِي سُلَيْمٍ حَمْرَاءَ

“Bahwasannya Nabi Shallahu alaihi wa sallam menetapkan untuk rayah Bani Salim berwarna merah.” (HR. Thabrani dalam kitabnya Al-Mu’jamul Kabir No. 425)

Bentuk dan Bahan Kain Bendera Rasulullah

Al-Hujaili dalam Al-Alamu Nabawiy as-Syarif menyebutkan bahwa bentuk bendera Rasulullah adalah segiempat. Hal ini berdasar pada hadits

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى الرَّازِيُّ، أَخْبَرَنَا ابْنُ أَبِي زَائِدَةَ، أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْقُوبَ الثَّقَفِيُّ، حَدَّثَنِي يُونُسُ بْنُ عُبَيْدٍ مَوْلَى مُحَمَّدِ بْنِ الْقَاسِمِ، قَالَ: بَعَثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْقَاسِمِ إِلَى الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ يَسْأَلُهُ عَنْ رَايَةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَاهِىَ؟ فَقَالَ: كَانَتْ سَوْدَاءَ مُرَبَّعَةً مِنْ نَمِرَةٍ.

“Dari Ibrahim bin Musa ar-Razi, mengabarkan pada kami Ibnu Abi Zaidah, mengabarkan pada kami Abu Ya’kub Ats-Tsaqafi,mengabarkan padaku Yunus bin Ubaid diutus Muhamad bin al-Qasim untuk bertanya kepada Bara bin Azib tentang bendera Nabi SAW, Bara menjawab, “Bendera Nabi SAW berwarna hitam, berbentuk segi empat (bujur sangkar), terbuat dari jubah berwarna hitam.” (HR Abu Daud)

Hadits ini hadits hasan menurut Al-Bukhari, hasan gharib menurut At-Tirmidzi dan di dhaifkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam musnadnya.

Berdasar hadits di atas pula kita dapat mengetahui bahwa rayah Rasul terbuat dari kain wol. Namun, Al-Hujaili mengatakan bahwa pada masa Nabi Muhammad, material atau bahan untuk membuat bendera tidak dipilih secara khusus. Liwa maupun rayah dapat terbuat dari kain bulu, wool, atau jenis kain yang lain.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ لِوَاءُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفَتْحِ أَبْيَضَ،وَرَايَتُهُ سَوْدَاءَ قِطْعَةَ مِرْطٍ مُرَجَّلٍ

“Dari Aisyah ia berkata, ‘Panji Rasulullah saat memasuki kota Makah berwarna putih, sedang benderanya berwarna hitam berbahan potongan kain wol.” (HR Baihaqi)

Rayah Rasulullah pun mempunyai sebuah nama yaitu Uqab. Hal ini berdasar pada pernyataan Ibnu Ishaq dalam Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam. Juga diperkuat dengan hadits yang diriwayatkan Ibnu Adiy dari sahabat Abu Hurairah.

عن أبي هريرة كانت راية رسول الله صلى الله عليه و سلم سوداء تسمى العقاب

“Dari Abu Hurairah bahwasannya rayah Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam itu hitam bernama al-uqab.” (HR Ibnu Adiy)

Hadits serupa dengan redaksi yang berbeda juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, Baihaqi, An-Nawawiy dan lainnya.

Tulisan di Atas Bendera Nabi

Al-Hujaili menyebutkan ada beberapa hadits dari riwayat Thabraniy, Abu Syaikh dari Abu Hurairah dan Ibnu Abbas mengatakan bahwa di atas bendera Nabi bertuliskan kalimat tauhid.

Namun, tidak sedikit ulama yang mendhaifkan riwayat ini seperti Imam Bukhari, An-Nasai dan Ibnu Ma’in.

Dari sekian hadits yang diperselisihkan ada satu hadits yang dikeluarkan oleh Abu Syaikh al-Ashbahaniy dalam Akhlaqun Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dari Ibnu Abbas berstatus shahih.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: كَانَتْ رَايَةُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْدَاءَ وَلِوَاءُهُ أَبْيَضَ، مَكْتُوبٌ فِيْهِ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ

“Dari Ibnu Abbas, ia berkata, ‘Bendera Rasulullah SAW berwarna hitam, sedang panjinya berwarna putih dan ada tulisan kalimat tauhid.” (HR. Abu asy-Syekh, Akhlaqun Nabi SAW)

Di dalam Al-Alam An-Nabawi Asy-Syarif disebutkan bahwa bahan yang digunakan untuk menulis adalah arang hitam atau jelaga yang dicampur dengan getah pohon. Khot yang dipakai adalah Makkiy dan Madaniy. Al-Hujaili juga menambahkan bahwa rayah tidak terdapat tulisan ataupun gambar di dalamnya. Wallahu a’lam bi shawab.

Penulis: Dhani El_Ashim
Editor: Arju

Sumber : Al-Alamu Nabawiy as-Syarif wa Tatbiqatihi al-Qadimatu wa al-Ma‘ashiratu karya Abdullah bin Muhammad bi Sa’ad Al-Hujaili

Sumber : kiblatnet

 

Berita terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *