PM Tunisia Larang Penggunaan Cadar di Kantor Pemerintah Demi Keamanan

Ilustrasi cadar (Reuters)
Bagikan:

Panji Islam: Tunis, Perdana Menteri Tunisia Youssef Chahed melarang pemakaian cadar di lembaga-lembaga publik dengan alasan keamanan. Kebijakan itu dikeluarkan PM Tunisia beberapa hari setelah terjadi aksi bom bunuh diri oleh seorang buronan militan.

Seorang saksi mata mengatakan bahwa pelaku bom bunuh diri tersebut melancarkan aksinya di Tunis, ibu kota Tunisia, pada Selasa, 2 Juli lalu. Menurut keterangan saksi mata, pelaku bom bunuh diri menyamarkan dirinya dengan cadar. Namun, Kementerian Dalam Negeri Tunisia membantah keterangan itu.

“(PM Tunisia) Chahed telah menandatangani sebuah keputusan yang melarang siapa pun yang merahasiakan wajahnya saat mengakses kantor pusat, administrasi, dan institusi publik untuk alasan keamanan,” demikian bunyi pernyataan pemerintah Tunisia, dikutip laman Reuters, Jumat (5/7).

Terkait :   Menurut Kiai Said, Agama Jangan Di Jadikan Alasan Berbuat Jahat

Insiden ini merupakan yang ketika kalinya terjadi di Tunisia dalam sepekan terakhir. Serangan bom tersebut juga terjadi menyusul persiapan pemerintah Tunisia menggelar pemilu parlemen dan juga puncak musim liburan yang diharapkan bisa mencatatkan jumlah pengunjung. Kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas tiga serangan itu.

Pada 2011, wanita kembali diperbolehkan mengenakan hijab lagi setelah sebelumnya mantan PM Tunisia Zine El Abidin Ben Ali dan Habib Bourguiba, melarangnya dalam waktu yang cukup lama. Tunisia adalah salah satu dari sedikit negara dimana kelompok islamis berbagi kekuasaan dengan partai politik sekuler.

Namun pada 2014, Kementerian Dalam Negeri memerintahkan pihak kepolisian untuk meningkatkan pengawasan terkait penggunaan cadar. Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk memerangi terorisme dan untuk mencegah penyalahgunaan cadar yang digunakan sebagai alat penyamaran atau menghindar dari pengadilan.

Terkait :   Pengadilan Kanada Bolehkan Penggunaan Burqa di Ruang Sidang

Sebagaimana diketahui, sejak 2011 atau setelah kudeta Ben Ali Tunisia telah memerangi kelompok-kelompok militan yang beroperasi di daerah-daerah terpencil di dekat perbatasan dengan Aljazair.

sumber: NU Online


Berita, Populer


Be Smart, Read More