Wapres Jusuf Kalla Menghadiri Sarasehan Perdamaian Maluku

Bagikan :
Sarasehan Perdamaian Maluku, sumber : detik.com

Panji Islam – Portal Berita Islam Terkini – Wapres Jusuf Kalla Menghadiri Sarasehan Perdamaian Maluku

Jusuf Kalla, Wakil presiden Republik Indonesia menghadiri Sarasehan Nasional tentang belajar dari resolusi konflik di Maluku. JK mengatakan konflik Maluku yang terjadi di masa lalu karena masalah ekonomi dan politik.

JK menjelaskan banyak pihak menyebut konflik di Maluku karena masalah agama. Padahal, menurut JK konflik Maluku terjadi karena masalah ekonomi dan politik yang kemudian dibawa ke isu agama.

“Apabila berbicara tentang konflik Maluku banyak orang menyangka bahwa itu konflik agama. Memang pada akhirnya adalah konflik agama, tapi sebabnya bukan konflik agama,” kata JK di Hotel JS Luwansa, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa.

Terkait :   Jokowi: Islam Mengajarkan Lemah Lembut Menghormati Orang Lain, Tidak Mengajarkan Kekerasan

JK kemudian menceritakan kehidupan beragama yang harmonis di Maluku di masa lalu. Masyarakat Maluku kala itu menggantungkan hidup pada hasil perikanan laut, cengkeh, dan rempah-rempah.

“Tahun 1992 terjadi penurunan harga cengkeh. Ada yang memonopoli cengkeh, maka harga cengkeh turun drastis,” ujarnya.

Turunnya harga cengkeh itu membuat pendapatan masyarakat menurun dan menimbulkan kemiskinan. Hal tersebut terjadi selama beberapa tahun dan membuat ketidakseimbangan di masyarakat.

“Di lain pihak banyak pendatang pekerja kasar, orang Makassar jadi tukang becak. Tapi kemudian karena kerajinan, mereka menjadi pedagang di pasar, sehingga jadi ekonomi sebagian dilaksanakan oleh pendatang,” ucapnya.

Pemicu lainnya, di saat yang bersamaan pada tahun 1998 terjadi reformasi yang membuat sistem politik menjadi terbuka. Maka timbullah ketidakharmonisan karena demokrasi yang terbuka.

Terkait :   Penyelidikan dugaan penghinaan UAS dilanjutkan Polres Riau
Wapres jusuf kalla

“Kesalahannya ialah karena politik, ini supaya jadi pelajaran. Terjadilah kemudian gubernur, sekda, ketua DPR semua muslim. Wagub orang Katolik sehingga terjadilah ketidakseimbangan, jadi hasilnya terjadilah ketidakseimbangan ekonomi dan politik di masyarakat,” paparnya.

Setelah masalah ekonomi politik timbul, maka beberapa oknum kemudian mengarahkannya ke masalah agama. Konflik besar pun terjadi.

“Awal konflik itu masih berkisar ke anak muda. Satu minggu kemudian berubah dari anak muda ke Ras BBM (komunitas Bugis Makassar) menjadi agama. Setelah masing-masing berpihak kepada agama masing-masing. Kenapa agama itu mudah, karena kalau orang berperang karena agama itu tidak ada yang netral,” ucapnya.

Saat konflik yang diisukan karena agama terjadi, beberpa pihak kemudian memberi doktrin, membunuh saat perang agama imbalannya masuk surga.

Terkait :   Koalisi Keummatan: Golkar, Istilah Koalisi Umat Terlalu Tendensius

“Karena itulah timbul konflik yang besar karena surga. Timbul lah konflik yang tidak bisa berakhir karena tidak ada yang netral,” tuturnya.

“Demokrasi awalnya di Indonesia itu korbannya ribuan karena the winner take off. Sehingga timbul lah masalah agama, itu karena semua orang membunuh dan dibunuh dia senang” imbuhnya.

JK pun mengingatkan, konflik yang terjadi dipicu karena masalah politik dan ekonomi, yang kemudian diarahkan ke konflik agama.

“Inilah yang menjadi pemicu bagaimana cepat konflik itu kalau disebabkan masalah agama yang sebenarnya bukan masalah agama,” tuturnya.

Sumber : detik.com