Teroris, Kenapa Label Teroris hanya Untuk Islam?

Bagikan :
Teroris, Kenapa Label Teroris hanya Untuk Islam
Teroris, Kenapa Label Teroris hanya Untuk Islam / Ilustrasi Foto/Okezone

Panji Islam – Portal Berita Islam : Teroris, Kenapa Label Teroris hanya Untuk Islam?

Siapa sebenarnya teroris dan kenapa saat ini label teroris kesannya hanya disematkan untuk umat islam. Mari kita kita lihat beberapa pendapat dan penjelasan yang panji islam sadur dari beberapa sumber.

Mengutip tulisan opini salah satu kompasiana yang bernama Khalid Abdurahman, sekaligus berupa pertanyaan, yang kami gubah seperlunya.

Beberapa Tahun Silam sekitar tahun 2012, ada satu pristiwa penembakan di depan gedung bioskop di Amerika. Penembakan terjadi ketika penonton keluar dari menonton film batman. Pelaku menembak 71 orang dan 12 diantaranya meninggal. Pelakunya adalah James Holmes, seorang pemuda 24 tahun.Tapi tak ada satu mediapun yang memberi gelar Teroris kepada pelaku.

Jika pelaku beragama Islam sudah pasti media akan menyebutnya sebagai teroris. Tapi Pelaku bukanlah orang Islam. Kejadian serupa terjadi di norwegia beberapa tahun lalu. Penembakan terjadi disana.

Teroris lebih sering dikaitkan dengan orang Islam yang mengadakan makar. Tapi tidak bagi orang-orang diluar Islam. Orang-orang Islam jika melakukan pembunuhan akan dikatakan teroris. Sedangkan orang di luar Islam tidak dikatakan Teroris.

Jika menurut bahasan diatas teroris itu orang Islam yang melakukan kekerasan. Tapi jika kekerasan itu dilakukan oleh orang diluar Islam ia bukan teroris. Sungguh sebuah pernyataan yang membingungkan.

Teroris sendiri berasal dari kata teror yang berarti mengancam, menakuti orang lain. Nah berarti segala tindakkan yang membuat orang takut atau mengancam orang adalah tindak Terorisme. Tapi pada kenyataannya tidak demikian. Terorisme hanya ditujukan pada orang Islam dan tidak kepada selainnya.

Ada kerancuan apa sebenarnya makna teroris ini. Jika maknanya adalah orang yang mengancam keselamatan orang lain tentu pelaku penembakan di bioskop Amerika itu juga teroris. Amerika juga teroris. Begitu pula sekutu-sekutunya yang telah mengancam orang-orang di Afganistan, Iraq, Checnya, Palestina, dan Negara-negara lain. Begitupula orang-orang budha di Rohingya mereka adalah Teroris. Karena mereka telah membunuh, mengusir, juga mengancam kaum muslim di Rohingya.

Menurut kami – Panji Islam – apapun tindakan kekerasan yang dilakukan oleh agama apapun yang bertujuan untuk Teror / menakuti orang secara terorganisir harusnya disebut teroris, bukan hanya orang yang beragama islam saja yang diberi label teroris.

Pelabelan Teroris harusnya bukan berdasarkan agama apa yang dianut, tapi fakta dilapangan berbeda, kalau teror tersebut dilakukan oleh orang islam, maka disebut Teroris.

Melengkapi opini dari saudara Khalid Abdurahman di kompasiana, dalam salah artikelnya yaitu Siapa Teroris Sebenarnya dalam Catatan Sejarah Umat Manusia? kiblat.net yang bersumber dari juancole.com

Teroris, Kenapa Label Teroris hanya Untuk Islam
Teroris, Kenapa Label Teroris hanya Untuk Islam / Ilustrasi Foto/Okezone

Siapa Teroris Sebenarnya dalam Catatan Sejarah Umat Manusia?

Terorisme bermotif agama, itu juga bersifat universal. Sudah diketahui secara luas, beberapa kelompok atau komunitas mengadopsi terorisme sebagai sebuah taktik lebih banyak daripada yang lain. Dari sudut pandang orang Inggris sendiri, gerakan Zionis di Palestina pada saat di bawah mandat Inggris merupakan organisasi teroris yang aktif pada tahun 1940an. Dan selama periode tahun 1965-1980, FBI menganggap Liga Pertahanan Yahudi (LPY) termasuk di antara kelompok-kelompok teroris yang sangat aktif di AS.

Terkait :   Mahasiswa UI Gugat UU Terorisme ke MK

Pada suatu masa, para anggota LPY merencanakan pembunuhan terhadap seorang anggota Kongres dari Partai Republik, Dareell Issa (R-CA) karena memiliki darah Lebanon. Hanya beberapa tahun terakhir ini saja, di saat orang-orang nasionalis Yahudi telah memperoleh tujuan-tujuan dan keinginan mereka dengan berdirinya entitas Israel plus dukungan negara-negara terutama Amerika, maka taktik terorisme relatif “menurun”. Tetapi, terorisme akan mereka adopsi kembali jika komunitas Zionis-Yahudi itu menemui hambatan dalam meraih tujuan-tujuan politik mereka.

Faktanya, salah satu alasan para politisi Israel membolehkan para pemukim liar negara Yahudi itu tetap menduduki tanah Palestina di Tepi Barat yang telah mereka rampas secara tidak sah adalah, jika mereka (pemukim ilegal Yahudi) dipaksa kembali akan memicu kekerasan. Sebagai contoh, para pemukim ilegal Israel bukan hanya meneror warga Palestina, tetapi mereka juga mengarahkan ancaman teror itu kepada pejabat Israel, seperti dalam kasus pembunuhan PM Yitzhak Rabin.

Terlebih saat ini, sulit memahami mengapa Amerika menganggap Tamerlan Tsarnaev sebagai teroris, sementara Baruch Goldstein seorang ekstrimis Yahudi warga Israel yang membantai lebih banyak orang-orang Palestina ketika melakukan sholat di Hebron tidak.

Terorisme Hindu, Kristen, & Komunis di India

Pernah terjadi serangan teroris di situs makam tokoh sufi, Ajmer Sharif, di India yang dilakukan oleh pengebom berdarah dingin, bernama Bhavesh Patel dan sebuah geng nasionalis Hindu. Anehnya, mereka – para pelaku – merasa terganggu pada saat bom kedua yang telah mereka pasang tidak meledak, sehingga gagal membunuh banyak orang sebanyak yang mereka inginkan. Di India, Ajmer Sharif juga dikunjungi oleh para peziarah Hindu. Orang-orang penganut aliran fanatik semacam Bhavesh Patel dan geng nasionalis Hindu ini ingin menghentikan status Ajmer Sharif sebagai tempat terbuka bagi Muslim dan Hindu, karena didasari kebencian terhadap orang-orang Muslim.

Demikian juga dengan kelompok separatis NLF (National Liberation Front) yang berbasis Kristen, dan Partai Komunis India (Maoist) yang berbasis orang-orang Hindu yang berfaham komunis, kerap melakukan serangan-serangan mematikan, dan secara statistik jauh lebih banyak daripada yang dilakukan orang-orang Muslim.

Terorisme Buddha di Jepang & Myanmar

Para penganut Buddha juga terlibat dalam berbagai aksi terorisme dan juga aksi kekerasan lainnya. Banyak di antara ajaran-ajaran sekte Zen (Buddha) di Jepang menginspirasi dan mendukung militerisme di paruh pertama abad XX, meski kemudian para pemimpin mereka meminta maaf. Dampak destruktif mereka bisa kita saksikan secara masif ketika Jepang melancarkan kampanye militer di negara-negara Asia Timur & Tenggara dalam Perang Dunia Kedua.

Terkait :   Film Keberagaman Islam di Indonesi memenangkan Festival ReelOzInd

Kita juga bisa menyaksikan bagaimana sekte Inoue Shiro melakukan kampanye pembunuhan pada tahun 1930an di Jepang. Hari ini, para biksu Buddha di Myanmar menghasut warganya untuk melakukan kekerasan dan genosida terhadap Muslim Rohingya. Organisasi Tamil Eelam (LTTE) yang mengadopsi kekerasan di Sri Lanka juga berbasis orang-orang Hindu & Buddha.

Terorisme Kristen di Afrika

Demikian juga dengan agama Kristen, kelompok Tentara Perlawanan Tuhan di Uganda memicu permusuhan dan konflik yang menyebabkan 2 juta rakyat Uganda terusir dari kampung halaman mereka. Meskipun mereka adalah orang-orang Kristen Afrika, namun ajaran agama mereka diperoleh dari para misionaris Kristen Barat yang mengajari mereka dengan doktrin-doktrin kekristenan. Jika para ulama Saudi disalahkan atas menyebarnya paham Wahabi, mengapa para misionaris Kristen Barat tidak disinggung sama sekali ketika kekerasan/terorisme dilakukan oleh murud-muridnya di Afrika?

Kristen Eropa Pembunuh Terbesar Dalam Sejarah

Menurut catatan resmi, delapan besar jumlah korban tewas manusia akibat perang dalam sejarah:
1. Perang Dunia II (1939-1945) , jumlah korban tewas 60 juta – 85 juta
2. Penaklukan Bangsa Mongol di Eurasia (1206-1324), jumlah korban tewas 40 juta – 70 juta
3. Perang Tiga Kerajaan di Cina (184-280), jumlah korban tewas 36 juta – 40 juta
4. Perang Jepang Sino Kedua di Cina (1937-1945), jumlah korban tewas 25 juta
5. Penaklukan Dinasti Qing/Ming di Cina (1616-1662), jumlah korban tewas 25 juta
6. Pemberontakan Taiping di Cina (1850-1864), jumlah korban tewas 20 juta – 100 juta
7. Perang Dunia I (1914-1918), jumlah korban tewas 20 juta
8. Pemberontakan An Lushan di Cina (755-763), jumlah korban tewas 13 juta – 36 juta

Jumlah korban tewas terbesar yang menempati urutan pertama sebetulnya bukan pada Perang Dunia II sebagaimana catatan resmi di atas, di mana bangsa-bangsa Eropa dan AS sebagai pemain utama. Orang-orang Kristen Eropa terbukti dalam sejarah paling banyak menumpahkan darah dibanding dengan agama manapun di seluruh dunia. Jutaan orang kehilangan hidup mereka akibat perang salib di Eropa. Di samping itu, orang-orang Eropa berhasil melakukan sesuatu yang tidak dilakukan bangsa-bangsa lain, yaitu penghilangan nyawa atau eliminasi kehidupan manusia di tiga benua di dunia, yaitu pemusnahan manusia penduduk asli Indian di Amerika Utara, Amerika Selatan, dan penduduk Aborigin di benua Australia.

Terkait :   Berikut penemuan dari muslim yang mengubah dunia

Tercatat, jumlah hingga 100 juta manusia dibunuh – versi lain hingga 137 juta – dalam sebuah genosida terbesar dalam sejarah saat bangsa-bangsa Kristen Eropa menaklukkan benua Amerika. Sementara sisa populasi yang ada hanyalah untuk tujuan penelitian arkeologi karena dianggap sebagai barang antik peninggalan masa lalu, sehingga jika bukan karena keperluan semacam itu niscaya mereka akan dimusnahkan sama sekali. Orang-orang Aborigin Australia dan Indian penduduk asli Amerika yang hidup hari ini adalah untuk tujuan tersebut.

Merujuk pada data statistik jumlah kematian manusia di abad kedua puluh di atas, maka menjadi sesuatu yang aneh dan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang buta untuk melihat bahwa warisan agama Kristen Eropa sebagai sesuatu yang “baik”, sebaliknya Muslim dianggap identik sebagai pelaku kekerasan.

Di Eropa sendiri, meskipun jumlah populasi Muslim sangat banyak, menurut catatan pada tahun 2007-2009, ternyata kurang dari 1 persen aksi kekerasan dilakukan oleh masyarakat dari komunitas Muslim tersebut.

Terorisme adalah sebuah taktik yang diadopsi oleh sebagian orang dan itu ada di setiap agama, termasuk juga agama-agama sekuler, seperti marxisme, komunisme dan nasionalisme. Islam adalah satu-satunya agama yang secara tekstual membolehkan umatnya berperang, justru karena itulah Islam juga memiliki aturan-aturan yang ketat dan jelas mengenai tata cara berperang yang secara umum tidak boleh sembarangan membunuh musuh-musuhnya dari kalangan non-kombatan, seperti wanita, anak-anak, orang tua, termasuk tidak boleh dengan semena-mena merusak lingkungan alam.

Agama-agama dan ajaran lain, meski mengklaim tidak menyuruh umatnya untuk berperang, justru itulah di saat mereka menghadapi realita peperangan terjadi tindakan-tindakan brutal dan tidak beraturan dalam menyerang pihak lain dengan tanpa membeda-bedakan.

Akhirnya pada pertanyaan, bahwa Islam dan Muslim identik dengan kekerasan itu sebetulnya klaim atau fakta? Karena di era saat ini, Islam dan Muslim itu dinilai bukan semata-mata karena kondisi objektif Islam dan ulah orang-orang Muslim, tetapi lebih dominan karena opini media.

Adagium lama “people tend to believe what they hear the most – orang cenderung percaya apa yang paling mereka dengar” nampaknya betul-betul diterapkan oleh media-media mainstream untuk secara berulang-ulang mengaitkan Islam dan Muslim dengan sesuatu yang berada di luar Islam dan Muslim itu sendiri, seperti kekerasan. Cara seperti ini dilakukan dan terus dilakukan hingga mayoritas manusia meyakini melalui alam bawah sadarnya bahwa Islam dan Muslim itu memang identik dengan kekerasan.

Kesimpulan akhir, ISLAM BUKAN TERORIS dan TERORIS BUKAN ISLAM

 

sumber : Kompasiana & kiblat.net