Ibu Razan Ashraf Najjar: Apa Ini Identitas Teroris? Seraya Tunjukkan Rompi Medis

Bagikan :
ibu razan
Sabreen al-Najjar, ibu dari Razan al-Najjar; perawat Palestina yang ditembak mati sniper militer Israel di perbatasan Gaza

Panjiislam.com : GAZA – Sabreen al-Najjar, ibu dari Razan al-Najjar; perawat Palestina yang ditembak mati sniper militer Israel di perbatasan Gaza, menunjukkan rompi medis dan ID card putrinya. Sabreen sampaikan curahan hatinya kepada masyarakat dunia bahwa putrinya memang diincar pasukan Zionis karena dianggap mendukung “teroris” dalam demo Great March of Return.

“Saya menginginkan keadilan bagi Razan,” kata Sabreen sambil menarik gumpalan kain kasa medis dari saku rompi putrinya.

“Ini senjatanya! Saya ingin dunia tahu ini adalah senjata Razan al-Najjar, dan apakah ini identitas seorang teroris?,” tanya Sabreen sambil mengangkat ID card putrinya yang dikenakannya pada saat kematiannya.

Razan al-Najjar
Razan Ashraf Najjar gugur dalam tugas. Perawat Palestina itu ditembak Israel (Twitter)

Relawan medis berusia 21 tahun itu ditembak mati sniper pasukan Israel pada hari Jumat. Dia ditembak di bagian dada—laporan lain menyebut di bagian jantung—saat memberikan pertolongan pertama pada seorang demonstran Palestina yang terkena hantaman tabung gas air mata. Razan sudah memberi aba-aba dengan mengangkat tangan.

Terkait :   Sejarah Baru Amerika, Rashida Tlaib Menjadi Muslimah Pertama Anggota Kongres AS
pemakaman-Razan-Ashraf-Najjar
Pelayat membawa jasad perawat Palestina, Razan Najjar saat pemakamannya di Kota Khan Younis, Jalur Gaza Selatan, Sabtu (2/6). Peluru tajam yang ditembakkan tentara Israel menembus punggung Razan dan merangsek ke jantungnya. (AP Photo/Khalil Hamra)

Bagi Sabreen, Razan adalah seorang putri tercinta. Kematiannya perawat yang dijuluki “malaikat pelindung” ini membuat ribuan warga Palestina berduka. Jalan-jalan dan tiang lampu di sekitar kampungynya di Khan Younis sekarang dihiasi dengan gambar Razan yang tersenyum cantik.

Sabreen mengatakan bahwa Razan telah menjadi sukarelawan sejak awal protes massal Great March of Return Maret lalu. Dia bekerja tanpa bayaran.

“Saya takut akan dirinya, tetapi Razan mengatakan kepada kami bahwa dia tidak takut, dia merasa berkewajiban membantu dan jelas mengenakan rompi medis,” kata Sabreen, seperti dikutip CNN, Senin (4/6/2018).

“(Razan) mungkin kecil, tapi dia kuat, dan satu-satunya senjatanya adalah rompi medisnya,” lanjut Sabreen.

Terkait :   Islam Tumbuh Sangat Pesat Di Rusia, Inilah Bukti Nyatanya
Ribuan pelayat membawa jasad perawat Palestina, Razan Najjar saat pemakamannya di Kota Khan Younis, Jalur Gaza Selatan, Sabtu (2/6). Gadis 21 tahun tersebut terbunuh oleh tembakan Israel pada Jumat, 1 Juni 2018. (AP Photo/Khalil Hamra)
Ribuan pelayat membawa jasad perawat Palestina, Razan Najjar saat pemakamannya di Kota Khan Younis, Jalur Gaza Selatan, Sabtu (2/6). Gadis 21 tahun tersebut terbunuh oleh tembakan Israel pada Jumat, 1 Juni 2018. (AP Photo/Khalil Hamra)

Ayah Razan, Ashraf al-Najjran, duduk di samping istrinya dalam keadaan berduka. Dia beberapa kali mengangguk atas berbagai komentar istrinya.

Sabreen menuturkan kata-kata putrinya yang tak bisa dia lupakan. “Saya dilindungi oleh rompi saya,” kata Sabreen menirukan ucapan Razan. “Tuhan bersama saya, saya tidak takut,” lanjut ucapan Razan yang masih diingat ibunya.

Razan al-Najjran adalah pekerja medis kedua yang dibunuh pasukan Israel. Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, sudah 119 warga Palestina tewas ditembak selama protes massal berlangsung. Lebih dari 200 orang lainnya terluka.

Sementara itu, militer Israel mengaku sedang menyelidiki insiden yang menewaskan Razan. IDF atau Pasukan Pertahanan Israel tetap menyangkal menargetkan pekerja medis. “IDF terus bekerja untuk menarik pelajaran operasional dan mengurangi jumlah korban di wilayah pagar keamanan Jalur Gaza,” bunyi pernyataan militer negara Yahudi tersebut.

Terkait :   3 Remaja muslim Amerika ikut lomba robotik

Sumber : international.sindonews.com