Tumpukan Sampah di Purbalingga Melebihi Candi Borobudur??

Bagikan :

PANJI ISLAM, Purbalingga – Pemerintah Kabupaten Purbalingga merasa kewalahan mengatasi soal sampah di perkotaan. Akibatnya, volume sampah kian menggunung. Dalam satu bulan, Kabupaten Purbalingga harus menampung sampah hingga 58.278 meter kubik.

Bupati Purbalingga, Tasdi mengatakan, volume sampah di Kabupaten Purbalingga melibihi volume Candi Borobudur. Kondisi darurat itu dipicu penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Banjaran, Bojongsari pada Februari lalu.

“Kini sampah menggunung. Melebihi volume Candi Borobudur yang hanya sekitar 55.000 meter kubik,” katanya, Senin, 12 Maret lalu.

Tasdi menjelaskan, TPA itu ditutup karena sudah overload. Warga protes karena tumpukan sampah di TPA mencemari resapan air.

“Bau dan air limbah sampah merembes ke sumur,” tegasnya.

Terkait :   Inilah Pengakuan Manusia Kanibal Sumanto

Usai penutupan itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Purbalingga menyiapkan tempat pembungan sementara di TPA baru Desa Bedagas. Tetapi baru tiga hari, muncul penolakan dari warga sekitar lantaran tak disertai tempat pengolahan sampah.

“Pertama, kami kecewa, tempat pemrosesan sampah belum ada, tapi sampah sudah masuk,” kata salah satu Perangkat Desa Bedagas, Wono Setiyadi.

Kata Wono, warga enggan jika sampah yang masuk hanya menumpuk tanpa diolah. Mereka meminta nota kesepahaman agar pembangunan TPA seperti yang digemborkan selama ini.

“Minimal TPA seperti di Sukoharjo Kabupaten Pati. Di sana terdapat kebun binatang mini, dijadikan eduwisata pengelolaan sampah, dan menghasilkan gas methan untuk bahan bakar warga sekitar,” ujar Wono.

Terkait :   Sejarah Hari Peduli Sampah Nasional, Hingga Tragedi Longsor Sampah TPA Leuwigajah yang Telan Dua Kampung

Atas penolakan itu, potensi sampah berkisar 1.942,6 meter kubik per hari itu mau tidak mau menumpuk di tempat pembuangan sementara (TPS) sampah. Bahkan, keranjang sampah jalan protokol meyerupai dipenuhi lalat yang berkerumun.

Sumber : Riau Redaksi