Donald Trump Belum Sama Sekali Melirik Asia Tenggara?

Donald Trump Belum Sama Sekali Melirik Asia Tenggara?
Donald Trump Belum Sama Sekali Melirik Asia Tenggara?
Bagikan:

PANJI ISLAM, Jakarta – Sepanjang 100 hari pemerintahan Presiden Donald Trump, berbagai tanggapan menyeruak di seantero dunia, baik itu komentar maupun kritik. Namun, belum terdengar sedikit pun kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) ke-45 itu tentang posisi strategisnya di Asia Tenggara.

“Di Asia, Presiden tengah berfokus mendukung stabilitas di kawasan Laut China Selatan, dan mengupayakan pembahasan damai tentang isu program nuklir Korea Utara,” ujar Steven Okun, pendiri sekaligus CEO APAC Advisor, salah satu lembaga konsultan kebijakan publik terkemuka di Asia Pasifik.

Berbicara pada sebuah diskusi terbuka yang diselenggarakan oleh The United States – Indonesia Society (Usindo) pada Rabu (7/2/2018) di Jakarta, Steven menampik bahwa hubungan dengan Asia Tenggara tidak ada dalam agenda diplomatik pemerintahan Presiden Donald Trump.

Terkait :   Bayar Rp 1,3 Miliar, Intelijen AS Gagal Malah Gagal Dapatin Dokumen Rahasia

Menurutnya, Donald Trump tetap melanjutkan tradisi hubungan strategis dengan negara-negara Asia Pasifik sebagaimana mestinya, termasuk kepada negara-negara Asia Tenggara.

Akan tetapi, bentuk hubungan diplomatik itu masih sebatas kontak tidak langsung melalui perwakilan resmi pemerintah, seperti contoh oleh fasilitator pangkalan militer AS di Filipina dan kedutaan besar di masing-masing negara.

“Tampaknya, Presiden memang tidak ingin membagi fokus selain hal-hal yang telah ‘diurusinya’ sejak pertama kali memerintah dari Gedung Putih,” lanjut Steven.

Ditanya tentang bagaimana dampak berbagai kebijakan Donald Trump terhadap Indonesia, Steven dan pembicara lainnya, Aaron Connelly dari Lowy Institute, menyebut komitmen pemerintah AS untuk terus menguatkan hubungan baik yang telah terjalin.

Terkait :   Indonesia menjadi pusat pembelajaran islam asia tenggara

“Kami melihat Presiden Donald Trump belum sepenuhnya menanggalkan pola diplomasi yang biasa dilakukannya di dunia bisnis, dan membawa hal tersebut ke Gedung Putih, sehingga pertimbangan ‘untung-rugi’ begitu jelas terbaca dari beragam kebijakannya,” ujar Aaron menjelaskan.

Sumber : Liputan6.com



Be Smart, Read More