PANJI ISLAM – Riziq Syihab Bukan Keturunan Nabi Muhammad SAW Secara Absolut
Pada tanggal 21 April 2026, Riziq Syihab membuat sebuah video yang menjelaskan silsilah keluarganya dengan judul “Pemaparan Silsilah Keluarga Datuk IBHRS”. Video itu berdurasi 51.12 menit. Dalam video itu ia menjelaskan silsilah kekerabatan beberapa keluarganya, dan itu bukan urusan umat Islam: sahih atau tidak, itu urusan mereka. Yang kita permasalahkan adalah bahwa di dalam video itu pula Riziq mengaku sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW. Inilah yang akan kita bahas, bahwa Riziq tidak berhak mengaku sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW berdasar sumber-sumber data yang akan saya sampaikan.
Dalam video itu, Riziq Syihab mengaku sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW dari jalur Ahmad bin Isa yang ia sebut Ahmad Al-Muhajir yang hidup di abad ke-4 Hijriyah. Kata Riziq, Ahmad bin Isa berhijrah dari Bashrah ke Hadramaut dan mempunyai anak bernama Ubaidillah (menit ke-12.15). Menurutnya lagi, Ubaidillah mempunyai anak bernama Alwi, dan Alwi inilah yang merupakan datuk dari Riziq dan seluruh imigran Yaman yang bermarga Ba’alwi.
Klaim semacam itu tidak terverifikasi sumber primer apa pun kecuali hanya pengakuan sepihak yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Kitab-kitab nasab yang berjejer dari mulai abad ke-5 Hijriyah sampai abad ke-9 Hijriyah semuanya telah berijma bahwa Ahmad bin Isa tidak mempunyai anak bernama Ubed atau Ubaidillah atau Abdullah. Pengakuan itu baru muncul di tahun 895 Hijriyah dari Ali al-Sakran, salah satu leluhur Riziq Syihab.
Sebelas nama-nama yang diperlihatkan Riziq Syihab dalam video itu pun, dari mulai nama Maula Dawilah sampai Ubed, telah terbukti sebagai tokoh fiktif yang tidak tereportase para sejarawan yang menulis historiografi tokoh-tokoh di Hadramaut. Padahal di Hadramaut telah banyak kitab sejarah ditulis di setiap masa; nyatanya jika kita lihat dalam kitab sejarah itu, sesuai dengan masanya masing-masing, sebelas nama itu tidak pernah disebutkan. Ini menunjukkan bahwa seluruh bangunan sejarah mereka yang ditulis kemudian hari yang menyebut mereka sebagai ulama-ulama besar adalah halusinasi dan fiksi belaka.
Hasil tes Y-DNA dari keluarga Ba’alwi pun telah konklusif menunjukkan bahwa mereka 99,95% ber-haplogroup (G), yang artinya bahwa keluarga Ba’alwi jangankan keturunan Nabi Muhammad SAW, sebagai orang Arab saja mustahil. Keturunan Nabi yang asli yang ada di Makkah dan Madinah seperti keluarga Bani Qatadah, Bani Aoni, Bani Sulaimaniyah, Al-Jammaz, Al-A’raj, telah keluar hasil tes Y-DNA-nya bahwa mereka ber-haplogroup J1. Haplogroup J1 adalah haplogroup orang-orang Arab, termasuk di dalamnya keturunan Nabi Muhammad SAW. Begitu juga keluarga Imam-imam Zaidiah di Yaman dari keluarga Arrasi, keluarga Imam Husain di Karbala, keluarga Al-Qanadil di Mesir, semuanya telah tes Y-DNA. Walaupun mereka berasal dari tempat-tempat yang berbeda dan masing-masing melakukan tes DNA tanpa kompromi sebelumnya, tetapi keaslian ikatan darah mereka di masa lalu menunjukkan kesamaan haplogroup mereka di hari ini. Dan nama-nama keluarga itu tercatat rapi dalam kitab-kitab nasab mulai abad ke-4 Hijriyah sampai kitab nasab yang ditulis hari ini; semuanya mencatat ketersambungan nasab mereka dari masa ke masa tanpa ada keterputusan.
Berbeda dengan pengakuan Riziq sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW, pengakuan itu terputus dalam kitab nasab, hanya mentok sampai abad ke-9 Hijriyah, yaitu abad di mana leluhur Riziq yang bernama Ali al-Sakran mengaku sebagai keturunan Nabi. Sebelum abad ke-9 Hijriyah, tidak ada yang menyebutkan bahwa mereka keturunan Nabi Muhammad SAW. Jangankan ada yang menyebut sebagai keturunan Nabi, sebagai manusia bersejarah saja tidak ada yang menyebutkan.
Tidak boleh umat Islam mengakui nasab semacam itu karena akan merendahkan martabat keturunan Nabi yang asli. Riziq dan sesepuh klan Ba’alwi yang hidup hari ini harus menjadi teladan yang baik untuk keturunan Ba’alwi ke depan. Kesalahan penisbatan masa lalu sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW tidak boleh malah dicari-cari alasan pembenarannya. Yang lalu biar berlalu. Mengakui khilaf masa lalu itu terhormat dan membuktikan mental yang kuat.
Sejatinya, kemuliaan seseorang tidaklah terletak pada darah yang mengalir di nadinya, melainkan pada ketulusan hati untuk menjunjung tinggi kebenaran. Menanggalkan jubah kebanggaan yang semu demi merengkuh kejujuran adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada Rasulullah SAW. Mari kita kembalikan kasih sayang di atas segalanya, sebab kejujuran yang pahit jauh lebih menyelamatkan daripada kepalsuan yang melenakan. Ingatlah bahwa pada akhirnya, kita akan berdiri di hadapan Sang Khalik tanpa membawa gelar maupun nasab, melainkan hanya membawa amal dan kejujuran. Memaksakan sebuah silsilah hanya akan menjadi beban berat di pundak generasi mendatang. Biarlah kejujuran hari ini menjadi warisan paling berharga, agar anak cucu dapat melangkah dengan kepala tegak, tanpa bayang-bayang keraguan yang membebani jiwa mereka. Dengan mengakui kebenaran sejarah, seseorang justru sedang membangun jembatan persaudaraan yang lebih kokoh. Rayakanlah nikmat kemanusiaan dan keimanan dengan hati yang jernih, karena di hadapan-Nya, yang paling mulia adalah mereka yang paling bertakwa. Tidak menjadi cucu Nabi itu tidak hina, karena Allah telah memuliakan semua manusia: walaqad karramna bani Adama.
Sesungguhnya, kebenaran tidak akan pernah berkurang nilainya hanya karena ia sulit untuk diterima. Ketika lembaran sejarah dan data sumber primer telah berbicara dengan jujur bahwa garis nasab itu tidak tersambung, maka bertahan dalam penyangkalan hanyalah akan menjadi beban yang meletihkan batin. Janganlah melawan arus data yang ada, karena memaksakan sesuatu yang tidak berpijak pada kenyataan hanya akan menambah luka dan derita panjang bagi diri sendiri maupun keturunan. Menanggalkan jubah pengakuan yang tidak terverifikasi bukanlah sebuah kehinaan, melainkan sebuah keberanian besar untuk membebaskan jiwa dari kepalsuan. Kembalilah pada kemuliaan amal dan akhlak, sebab di hadapan Allah, ketakwaanlah yang menjadi tolok ukur utama, bukan silsilah darah. Mengakui kenyataan hari ini adalah cara terbaik untuk berdamai dengan masa lalu dan membangun masa depan yang lebih terhormat di atas landasan kejujuran.
Untuk umat Islam, mari kita renungkan dengan hati yang bening. Mencintai Nabi adalah kewajiban, namun membenarkan klaim nasab tanpa bukti yang sah bukanlah bentuk penghormatan, melainkan beban sejarah yang kita wariskan kepada anak cucu. Ketika kita terus mengakui sesuatu yang tidak terverifikasi oleh data primer, kita sebenarnya tidak sedang menolong saudara kita seperti Riziq Syihab; kita justru sedang membiarkannya terperangkap dalam labirin kesalahan yang panjang. Berhentilah memberinya ‘pembenaran’ semu. Dengan bersikap jujur pada data, kita justru sedang membantunya untuk lekas berdamai dengan kenyataan dan melepaskan beban berat yang selama ini ia pikul di pundaknya.
Ketahuilah, kemuliaan sejati tidak akan berkurang hanya karena kita tidak menyandang gelar keturunan tertentu. Justru dengan mengakui kebenaran sejarah yang pahit, kita sedang menjunjung tinggi martabat Islam yang tegak di atas kejujuran. Mari kita bantu saudara kita untuk kembali ke jalan ketulusan, sebab pengakuan yang paling berharga bukanlah dari manusia, melainkan dari Sang Pencipta yang melihat ketakwaan di balik setiap helai napas kita. Wassalam.
Penulis: Imaduddin Utsman.Al-Bantani
Sumber Berita: rminubanten.or.id
PANJI ISLAM
Portal Berita Islam – Portal Berita Islam Terpercaya








Discussion about this post